Keajaiban Shalat Hajat - Ibnu Thahir
August 7, 2008
Kisah-kisah nyata dari Keajaiban Shalat Hajat
Banyak orang yang tidak mengetahui tentang syari’at shalat hajat dan keutamaan yang terkandung di dalamnya. Padahal, shalat ini disyariatkan bagi setiap muslim, terutama ketika memiliki permasalahan atau kebutuhan. Padahal, kita selalu memiliki permasalahan dalam hidup kita, baik itu kecil, besar, mudah, maupun rumit. Dalam skala prioritasnya, terkadang orang lebih menggantungkan kepada usaha-usaha belaka, tanpa mengadukannya kepada Allah melalui shalat.
Sementara itu, Allah telah memerintahkan kepada umat Islam untuk meminta tolong (dalam setiap keluhan dan permasalahan) kepada-Nya melalui shalat dan bersabar.
Dalam buku “Keajaiban Shalat Hajat” yang ditulis oleh Ibnu Thahir, telah banyak para sholihin atau hamba Allah yang mendapatkan keajaiban shalat hajat ini, bahkan secara spontan. Sebagimana yang terdapat di bawah ini:
A. Menghidupkan Keledai yang Mati
Diriwayatkan dari Abu Sirah an-Nakh’iy, dia berkata, “Seorang laki-laki menempuh perjalanan dari Yaman. Di tengah perjalan keledainya mati, lalu dia mengambil wudhu kemudian shalat dua rakaat, setelah itu berdoa. Dia mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya saya datang dari negeri yang sangat jauh guna berjuang di jalan-Mu dan mencari ridha-Mu. Saya bersaksi bahwasanya Engkau menghidupkan makhluk yang mati dan membangkitkan manusia dari kuburnya, janganlah Engkau jadikan saya berhutang budi terhadap seseorang pada hari ini. Pada hari ini saya memohon kepada Engkau supaya membangkitkan keledaiku yang telah mati ini.” Maka, keledai itu bangun seketika, lalu mengibaskan kedua telinganya.” (HR Baihaqi; ia mengatakan, sanad cerita ini shahih)
B. Tercapainya Seluruh Hajat
Di dalam kitab Hasyiyatu Ibnu ‘Aabidiin, disebutkan bahwa di dalam shalat hajat, pada rakaat pertama dibaca surah Al-Fatihah dan ayat Kursi tiga kali kemudian pada tiga rakaat sisanya dibaca surah Al-Fatihan dan Al-Ikhlash, Al-Falak, dan An-Nas satu kali. Maka itu sebanding dengan Lailatul Qadr . Guru-gurunya melaksanakan shalat ini, dan tercapai seluruh hajatnya.
C. Dikabulkan Permintaannya Oleh Khalifah Utsman bin Afan
Dalam kitab Mu’jamu ash-Shoghir wal Kabiir, Imam Thabrani menceritakan: Ada seorang laki-laki memiliki kebutuhan (hajat), kemudian ia memintanya kepada Amirulmukminin Utsman bin Afan, tetapi Utsam bin Afan tidak memberikan apa yang dimintanya. Kemudian ia bertemu seseorang, yaitu Utsman bin Hunaif. Lalu ia mengadukan permasalannya kepadanya. Akhirnya, Utsman bin Hunaif menyuruhnya untuk melaksanakan shalat hajat, sebagaimana yang telah diajarkan –tata caranya– dalam hadits. Kemudian, ia pun mengerjakannya. Setelah itu, ia pun datang kembali menemui Utsam bin Afan. Tidak disangka, Utsam bin Afan memuliakannya dan mengabulkan permintaan laki-laki tersebut. Dengan kejadian itu, ia pun menemui Utman bin Hunaif (yang telah mengajarkannya shalat hajat) dan mengucapkan terima kasih kepadanya.
D. Ditolong Malaikat dari Perampok
Di kuffah ada seorang kuli barang yang terkenal. Orang-orang selalu mempercayainya. Karena sifatnya yang jujur dan terpercaya, sehingga para pedagang banyak menitipkan barang atau uang kepadanya. Ketika ia sedang dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu bertanya, “Engkau mau kemana?” Kuli itu menjawab, “Akau akan ke kota….” Laki-laki itu berkata, “Aku juga akan ke sana. Aku dapat berjalan kaki bersamamu, atau bagaimana jika aku menumpang keledaimu dengan bayaran satu dinar?” Kuli itu pun setuju.
Ketika sampai di persimpangan jalan, laki-laki itu bertanya, “Jalan manakah yang akan engkau lalui?” “Jalan besar yang umum ini,” jawab kuli itu. Penumpang itu berkata, “Jalan yang satu ini lebih dekat dan lebih mudah bagi makanan binatang karena banyak rumput di sana.” Kuli itu menyahut, “Aku belum pernah melewati jalan ini.” “Aku sering melewatinya,” sahut penumpang itu. “Baiklah, jika begitu,” jawab kuli itu. Mereka pun melalui jalan itu. Beberapa lama kemudain, mereka tiba di sebuah hutan seram yang banyak terkapar mayat manusia. Tiba-tiba, penumpang tadi melompat dari keledai yang dinaikinya dan langsung mengeluarkan pedang dari balik punggungnya dengan niat membunuh kuli tadi. “Jangan!” teriak kuli itu “Ambillah keledai beserta semua barangnya, tetapi jangan bunuh aku.” Penumpang itu tidak memedulikan tawaran tersebut, bahkan ia bersumpah akan membunuhnya, kemudian mengambil semua barangnya. Kuli tersebut merasa cemas, namun si penumpang tidak memdulikannya sama sekali. Akhirnya, kuli itu pun berkata, “Baiklah, izinkan aku shalat dua rakaat untuk terakhir kalinya.” Sambil tertawa, penumpang tadi mengabulkan permintaan kuli itu dengan mengatakan, “Silakan, cepatlah shalat! Mereka yang mati ini pun telah meminta hal yang sama sebelum mati, tetapi shalat mereka ternyata tidak menolong mereka sedikit pun.” Kuli itu pun segera melaksanakan shalat. Akan tetapi, setelah membaca surah Al-Fatihah, ia tidak dapat mengingat satu surah pun –untuk dibacanya–. Sementara itu, orang zalim itu (penumpang) menunggu sambil terus berteriak, “Cepat, selesaikan shalatmu!” Tanpa sengaja, sambil menangis, terbaca oleh lidah si kuli itu ayat yang berbunyi:
“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan ….” (QS An-Naml [27]: 62)
Setelah membaca ayat itu, tiba-tiba, muncullah seorang penunggang kuda bertopi gemerlapan dari besi. Ia datang dan menikam orang zalim tadi hingga mati. Di tempat orang zalim itu mati, keluarlah nyala api.
Kuli itu langsung bersujud syukur ke hadirat Allah SWT. Lalu, ia lari ke penunggang kuda tadi dan bertanya, “Siapakah engkau dan bagaimanakah engakau datang?” Ia menjawab, “Aku adalah hamba dari ayat yang engkau baca tadi. Sekarang, engkau aman dan dapat pergi ke mana pun sesukamu.” Setelah berkata demikian, orang itu pun menghilang.
E. Matanya disembuhkan kembali seperti sedia kala
Dari Utsman bin Hunaif bahwa ada seorang yang buta matanya menemui Nabi , lalu ia mengatakan, “Sesungguhnya saya mendapatkan musibah pada mata saya, maka berdoalah kepada Allah (untuk) kesembuhanku.” Maka Nabi ? bersabda,
“Pergilah, lalu berwudhu, kemudian shalatlah dua rakaat. Setelah itu, berdoalah (dengan mengucapkan): ALLAHUMMA INNI AS`ALUKA, WA ATAWAJAHU ILAIKA BINABIYYI MUHAMMADIN NABIYIR ROHMATI, YAA MUHAMMAD INNI ASTASYFA’U BIKA ‘ALA ROBBI, FII RODDI BASHORI (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dan aku menghadap kepada-Mu atas [perintah] Nabiku, Muhammad sebagai Nabi rahmat, wahai Muhammad, sesungguhnya saya meminta syafa’at kepada Tuhan-ku dengan dirimu agar Dia mengembalikan penglihatanku).”
Utsman bin Hunaif berkata, “Dalam waktu yang singkat, laki-laki itu terlihat kembali seperti ia tidak pernah buta matanya.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Jika kamu memiliki kebutuhan, maka lakukanlah seperti itu (shalat Hajat).” (HR Tirmidzi)
Spesifikasi Buku:
Judul : Keajaiban Shalat Hajat
Penulis : Ibnu Thahir
Penerbit : QultumMedia. Jakarta, 2007
Website : http://www.qultummedia.com
Buddha - Deepak Chopra
August 7, 2008
Bagi para penganutnya riwayat hidup pangeran Siddharta yang kemudian menjadi Sang Buddha tentu sudah hafal diluar kepala. Namun bagi sebagian lainnya mungkin hanya mereka ketahui secara singkat lewat pelajaran agama di sekolah-sekolah. Kini riwayat hidup Buddha secara detail dapat kita baca melalui novel karya Deepak Chopra, dokter dan spiritualis yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi guru spiritual selebriti Hollywood.
Chopra membuka novelnya ini dengan adegan Raja Suddhodana (ayah Siddharta) yang sedang berperang melawan musuhnya. Pada saat yang sama, Ratu Maya, permaisuri Suddhodana ditandu melintasi hutan Lumbini. Ia sedang mengandung sepuluh bulan dan berniat melahirkan di kampung halaman orang tuanya. Belum sampai di tujuan, ditengah hutan Lumbini, saat bulan mulai bersinar terang lahirlah seorang putra yang sudah dinanti-nantikannya . Dinamainya putranya itu dengan nama Siddharta.
Layaknya seorang raja yang menginginkan anaknya agar menjadi penerus tahta kerajaannya, begitupun dengan Suddhodana, ia menginginkan Siddharta kelak menjadi penggantinya. Namun oleh Asita, seorang petapa, Siddharta diramalkan tidak akan menjadi raja agung yang berkuasa atas rakyatnya melainkan ia ditakdirkan untuk ‘menguasai jiwanya sendiri’
Suddhodana berniat mengubah takdir Siddharta, ia meminta bantuan Canki, pendeta istana. Canki menyarankan agar selagi muda Siddharta digembleng untuk menjadi seorang raja besar dan tak boleh keluar dari dinding-dinding istana. Siddharta tak diizinkan melihat penderitaan, penyakit, kemiskinan, orang-orang tua yang lemah, dll. Karenanya lingkungan istana terbebas dari hal-hal itu. Orang-orang yang sakit, tua dan menderita diusir dari istana dan dibuang ke sebuah desa yang terisolasi.
Siddhartapun hidup terkukung dalam istana mewahnya. Ia digembleng oleh ayahnya untuk menjadi seorang raja, namun lambat laun sikap Siddharta tak sesuai dengan sikap seorang calon raja seperti yang diinginkan Suddhodana.
Usaha membelokkan takdir Siddharta tak hanya berasal dari ayahnya, melainkan dilakukan juga oleh Mara, sang Iblis yang semenjak Siddhara lahir selalu mencoba menghancurkan mental Siddharta agar tak menjalani takdirnya. Baik secara langsung maupun meminjam tangan Devadatta, sepupu Siddharta yang ambisiun dan keji, Mara mencoba membelokkan takdir Siddharta.
Takdir tak dapat dilawan, walau telah memiliki istri dan seorang anak, Siddharta akhirnya meninggalkan istana dan keluarganya untuk menjadi seorang petapa guna mencari darma dan pencerahan batin. Ia mengganti namanya menjadi Gautama. Apa yang dijalaninya ternyata tak mudah, ia harus mencari guru yang membimbingnya. Beberapa petapa menjadi gurunya, namun tak satupun yang memberinya jawaban atas apa yang dicarinya.
Pencariannya tak mudah. Bayang-bayang kenikmatan hidup masa lalunya sebagai seorang pangeran sempat menghantuinya. Mara, sang iblis selalu menggodanya. Berbagai peristiwa yang dialami selama masa pencariannya ini membuatnya hampir menyerah.
Akhirnya Siddharta bergabung dengan lima orang pertapa yang kelak akan menjadi pengikut setianya ketika ia telah menjadi Buddha. Siddhara akhirnya sanggup melepaskan diri dari ikatan-ikatan duniawinya, ia mengalahkan iblis, hingga akhirnya menemukan jawaban atas apa yang dicarinya yaitu mencapai pencerahan sejati dan menjadi seorang Buddha.
Di novel ini riwayat hidup Buddha dibagi dalam tiga fase hidupnya ; Siddharta sang Pangeran, Gautama sang Pertapa, dan Buddha yang penuh belas kasih. Deepak Chopra tampak setia terhadap fakta sejarah dan alur riwayat kehidupan Buddha seperti yang telah diketahui oleh umum. Chopra hanya mengisi kekosongan periode-periode kehidupan Buddha yang tidak dicatat dalam lontar-lontar kuno dan prasasti-prasasti.
Jika mungkin selama ini kita mengenal Buddha sebagai tokoh damai dan bersahaja, namun melalui imajinasi Chopra kisah hidup Buddha dideskripsikan penuh dengan cerita cinta, seks, pembunuhan, kehilangan, perjuangan, dan penyerahan diri.
Tampaknya Chopra mencoba mengambarkan Buddha keluar dari kabut waktu, dan menonjolkan Buddha secara lebih manusiawi dan membumi. Tak seperti Pramoedya yang melucuti legenda Ken Arok dari unsur-unsur mistis dan tahayulnya (Arok Dedes, Hasta Mitra 1999), Chopra tetap mempertahankan unsur mistis dan supranatural secara wajar dan tak berlebihan. Selain itu selubung misteri dan sisi agung Buddha tetap dipertahankan sehingga bagi para penganutnya novel ini tampaknya tetap bisa diterima sebagai bacaan alternatif dari riwayat Sang Buddha.
Mengisahkan Buddha tentunya tak bisa lepas dari ajaran-ajarannya. Semula saya menyangka novel ini akan sarat dengan kalimat-kalimat filosofis, apalagi nama Deepak Chopra yang dikenal sebagai seorang spiritualis membuat saya awalnya sedikit berjarak dengan novel ini karena khawatir akan susah dimengeri dan membosankan.
Namun kekhawatiran itu ternyata tak beralasan. Chopra mengisahkan riwayat Buddha secara menarik dan enak dibaca. Kalaupun ada kalimat-kalimat filosofis, Chopra menyajikannya dalam porsi yang pas dan menyatu dalam alur kisahnya. Membaca novel ini sama asiknya dengan membaca novel-novel sastra pada umumnya.
Selain itu, di novel ini potret kehidupan masyarakat dan budaya India di tahun 563 SM tampak terdeskrisi dengan baik. Mulai dari upacara pembakaran jenazah, kehidupan di istana, pemilihan jodoh pangeran, hingga kehidupan seorang petapa dan sikap masyarakat terhadap para petapa tersaji dengan menarik dan informatif
Terjemahan yang enak dibaca, cover yang menarik dan pilihan jenis kertas yang tidak silau dan ringan membuat novel setebal 400 halaman ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Sebagai pelangkap, di bagian epilog dan akhir buku ini Chopra mencoba memberikan penjelasan-penjelas an mengenai ajaran Buddha. Karenanya tak berlebihan jika dikatakan bahwa novel ini dapat menjadi pintu masuk bagi mereka yang ingin mengenal dan memahami ajaran Buddha.
Mungkin ada hal-hal yang tidak tepat dalam mendiskripsikan Buddha menurut imajinasi Chopra, namun karena buku ini sebuah karya fiksi, marilah kita menikmatinya secara sastrawi. Ajaran-ajaran Buddha yang universal yang terdapat dalam novel ini tentunya dapat memberi kita inspirasi dan menutun kita lebih dekat menuju pemahaman hidup dan bagaimana kita menjalani hidup ini dengan lebih baik lagi bagi Tuhan dan sesama manusia.
@h_tanzil
The Leader of The Future 2
August 7, 2008
BUKU MANAJEMEN UNGGULAN BULAN INI
THE LEADER OF THE FUTURE 2
Editor: Frances Hesselbein & Marshall Goldsmith, Leader to Leader Institute (Peter Drucker)
Sejak terbit pada 1996, The Leader of the Future telah menjadi standar di bidang kepemimpinan, mencanangkan dasar baru dalam literatur kepemimpinan sehingga diterima sebagai satu paparan yang paling luas tersebar, menjadi koleksi bestselling untuk topik kepemimpinan. Kini, sepuluh tahun kemudian, dengan kontribusi terbaru, The Leader of the Future 2 lagi-lagi menyuarakan isu-isu kritis dan gagasan-gagasan transformatif. Menampilkan para pemikir kepemimpinan top dunia dari sektor privat, publik, dan sosial.
Dalam 27 esai yang sangat mencerahkan dan menginspirasi, buku ini menggaungkan wisdom dari beberapa pemimpin-pemikir kaliber dunia yang membagikan visi-visi unik mereka tentang kepemimpinan pada masa mendatang.
Kelompok penulis dari berbagai bidang ini berbicara kepada kita semuamenginspirasi, memandu, memberdayakan para pemimpin masa kini dan masa depan, menyuarakan genderang perang yang akan menggerakkan para pemimpin masa depan dalam dunia yang semakin bergolak dan penuh ketidakpastian.
Editor’s Note:
The Leader of the Future 2 mengikuti jejak sukses The Leader of the Future yang international bestseller, terjual ratusan ribu kopi, diterjemahkan ke dalam 28 bahasa, dan merupakan satu koleksi tentang kepemimpinan yang tersebar paling luas hingga kini.
Penulis Kawakan: Ken Blanchard dan Dennis Carey, Stephen Covey, Marshall Goldsmith, Charles Handy, Sally Helgesen, Rosabeth Moss Kanter, Jim Kouzes dan Barry Posner, Richard Leider, Edgar Schein, Peter Senge, Dave Ulrich dan Norm Smallwood, kembali ambil bagian setelah The Leader of the Future yang pertama.
Spesifikasi Buku
Ukuran : 15 x 23 cm
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Kelompok : Bisnis
Kategori : Kepemimpinan
Pembaca : UMUM, Manajer madya & puncak, CEO, entrepreneur, pelaku bisnis/profesional
Training of Trainer
August 7, 2008
Sebagai langkah awal untuk mewujudkan lahirnya 114.000 trainer di Indonesia, maka Asosiasi Trainer Muslim Indonesia dengan ini mengadakan Trainer of Trainer secara berkala, dimulai di daerah Surabaya dan sekitarnya.
Event I: 9 Agustus 2008
“Meraih Sukses Hakiki” | Inspirasi Surat Al Fatihah
Bersama Inspirator Sukses Heru SS
Waktu : 08.00 – 14.00 WIB
Tempat : Jl. Veteran IX/3 Gresik (perumahan PLN depan gedung Semen Gresik)
Fasilitas : Makan siang
Pendaftaran via sms ke 081 8857115 (Nurdin)
Investasi Rp.50.000,- (bisa langsung pada hari pelaksanaan)
Event II:24 Agustus 2008
“Mind Power to Success”
Bersama Guru Motivasi Indonesia Zein Abidin
Waktu : 08.00 – 14.00 WIB
Tempat : Jl.Sutorejo 68 Surabaya
Fasilitas : Makan siang
Pendaftaran via sms ke 081 8857115 (Nurdin)
Investasi Rp.50.000,- (bisa langsung pada hari pelaksanaan).
Harmoni Antara Visi , Kerja Keras dan Kepasrahan
August 4, 2008
Saya baru kesampaian membaca buku : 7 Tanda Kehancuran Bisnis Sukses , Gramedia 2008 ( judul aslinya The Self Destructive Habits of Good Companies ) karya Jagdish N.Sheth. Walaupun isi buku ini berbicara tentang kebiasaan destruktif yang menghancurkan bisnis yang sudah lama mapan , tetapi apa yang disampaikan sang penulis , 4 kebiasaan destruktif diantaranya cocok untuk menjadi peringatan bagi siapapun yang mengalami kesulitan dalam mengelola usahanya atau tugasnya secara personal .Karena ke empat poin itu , saya amati juga terjadi pada semua pelaku profesi profesional maupun sosial yang akhirnya mengalami kehancuran perjalanan profesinya. Yang saya maksud kehancuran adalah para pengguna profesi itu lama lama betambah berkurang, menjauh dan berganti kepada yang lainnya. Baca Lengkapnya


