Menerapkan Pengetahuan Menjadi Tindakan (bag. 1)
October 27, 2008
Tulisan bisa menginspirasi. Ceramah mampu menggugah. Humor merekatkan pengertian pada pikiran dan perasaan. Pada akhirnya, tindakan-lah yang mengubah hidup kita. Tahu saja tidak cukup, kita harus bertindak. Keberhasilan ternyata lebih ditentukan oleh penggunaan pengetahuan, melebihi pengetahuan itu sendiri.
Jadi …
• Bagaimana jika Anda bisa memahami penyebab terjadinya jurang antara mengetahui dan menerapkan?
• Bagaimana jika Anda dapat menjembatani jurang antara mengetahui dan menerapkan?
• Bagaimana jika Anda mampu memperkuat komitmen Anda untuk menerapkan pengetahuan Anda?
Baca Lengkapnya
TOT “NLP for Trainer” 25/10/2008
October 23, 2008
Assalaamu’alaikum
Asosiasi Trainer Muslim Indonesia (ATM Indonesia) mengundang anda mengikuti TOT (Training of Trainer) dengan tema “NLP (Neuro Linguistic Programming) for Trainer”
Hari : Sabtu
Tanggal : 25 Oktober 2008
Tempat : Ruang Abu Bakar, Masjid Al Akbar Surabaya
Waktu : 07.30 - 11. 30 WIB
Investasi : Rp. 75.000,- (dibayar pada hari pelaksanaan)
Fasilitas : Sertifikat, Makalah, dan Snack.
Tutor : Fahmi Arief (Certified Master NLP practitioner)
Bonus : Preview materi The Winning Journey (Perjalanan Kemenangan), inspirasi 114 surat Al Qur’an, oleh Ir. Heru, SS., MM penulis buku best seller Inspiring Qur’an series.
Untuk mendaftar, ketik: nama lengkap berikut gelar akademis, kirim ke 081 88 57 115 atau 031-77 97 1981.
Acara ini juga bertujuan untuk menjaring anggota baru ATM Indonesia.
Mohon kabar gembira ini diinfokan ke yang lain.
Terimakasih dan sampai ketemu. Jazaakallah.
“HUMOR” sebagai Bumbu Pembicaraan ANDA
October 21, 2008
oleh: Rio Purboyo
Anda pastinya sudah memahami bahwa Anda bisa memilih satu dari tiga orientasi berbicara. Apakah Anda akan lebih memilih untuk berorientasi kepada diri Anda sendiri, kepada isi pembicaraan Anda, atau tentu saja, Anda akan memilih yang terbaik. Berorientasi kepada pendengar Anda.
Ketika Anda mulai mencurahkan perhatian Anda secara lebih optimal kepada pendengar Anda, lebih daripada isi pembicaraan dan bahkan kepada diri Anda sendiri, Anda akan mulai mengerti bahwa dalam pembicaraan tersebut Anda mulai memainkan peran seakan-akan pendengar yang bersama Anda adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri Anda.
Dan, Anda pun akan mulai mengerti bahwa ternyata orang lain lebih mengingat emosi yang terkandung dalam pertemuan bersama Anda. Semakin dalam kualitas emosi yang Anda timbulkan pada orang lain, semakin tertanam kuat ingatan orang lain terhadap Anda. Gembira adalah salah satu emosi yang mudah lekat dalam benak orang. Orang akan sangat mudah hanyut dan akan mudah dekat pada seseorang yang lebih mudah membuatnya merasa gembira. Kegembiraan itu terlihat jelas paling tidak ketika pendengar Anda tersenyum atau tertawa. Tertawa pasti menunjukkan kesenangan. Boleh jadi ada orang menangis karena gembira, tetapi jarang sekali orang tertawa karena sedih. Makin cepat seseorang tergiring untuk tertawa, makin cepat pula keakraban terjalin. Sebab secara umum, manusia lebih suka dihibur daripada diajari. Sehingga, kemampuan dalam membuat seseorang merasa mudah bergembira ketika bertemu Anda menjadi salah satu keahlian yang kini makin penting Anda kuasai.
Baca Lengkapnya
Media: “Jangan hanya dijadikan “pemadam kebakaran” saja tapi sebagai teamwork dan keluarga anda
October 14, 2008
Oleh Tarsih Ekaputra
Tak sedikit dari staf media relation officer yang berkomunikasi dengan media hanya disaat akan melakukan penyebarluasan informasi saja, baik itu disaat organisasi akan melucurkan program atau produk barunya atau disaat organisasi sedang mengalami krisis baik itu krisis akibat adanya pemberitaan negative (PR Crisis) atau krisis keuangan (financial crisis) maupun krisis strategis (strategic crisis) yang melanda organisasi. Ada beberapa pertanyaan yang sering muncul terkait dengan program media relations ini, seperti kapan seharusnya media relations ini menjalankan fungsinya? Apa saja kendala yang dihadapi saat media relations officer (MRO) menjalankan fungsinya sebagai bagian dari PR? Hubungan seperti apa yang seharusnya dijalankan oleh seorang MRO?. Baca Lengkapnya
Media Relations: Theory Vs Fact
October 14, 2008
Oleh: Tarsih Ekaputra
Dalam sebuah workshop “Integrated PR Strategy with others Department for Maximum Result”, yang diprakarsai oleh XP Training dan digelar selama tiga hari di Bali beberapa waktu lalu yang diikuti oleh corporate secretary, external department serta departemen lain diluar PR dari beberapa oil company, penulis berkesempatan menyampaikan materi bertajuk Media Relations antara teori dan fakta. Kenapa tajuk ini saya anggap penting untuk dipahami oleh peserta workhop? Ada beberapa hal yang sering saya temukan dalam praktik dilapangan disaat menjalankan fungsi media relations sebagai bagian dari Public Relations, seperti seorang media relations dalam teori sebagai seorang executor atau sub bagian dari departemen PR yang menjalankan strategi dan perencanaan program yang dibuat oleh PR Department dalam sebuah organisasi.
Seiring dengan perkembangan yang ada dan tingginya kebutuhan oranisasi akan tenaga yang menguasai secara baik seluk beluk media dengan network dan kedekatannya, kini tumbuh dan berkembang pula jasa yang mengkhususkan pada bidang media relations ini. Dua hal ini menjadi pertimbangan utama dalam penyuguhan materi media relations antara teori dan fakta dilapangan selain juga adanya permintaan tentang bagaimana menggunakan media massa untuk keuntungan perusahaan (meminimalisasi misunderstanding/miscommunication) atau juga buat keuntungan diri anda sendiri. Tentu sudah sangat dimengerti bahwa secara teori, media relations memiliki fungsi atau peran pertama berkenaan dengan komunikasi, kedua berkenaan dengan pemberian informasi atau memberi tanggapan pada pemberitaan media atas nama organisasi atau klien. Kenapa demikian? Hal ini lebih dikarenakan dewasa ini media massa sudah menjadi bagian dari banyak orang. Nyaris tak ada kegiatan yang tak melibatkan media massa dalam kehidupan kita. Oleh karenanya, organisasi mau tidak mau membutuhkan sebuah hubungan baik dengan media yang oleh praktisi PR menjadi salah satu roh penting dalam aktivitas Public Relations.
Baca Lengkapnya
CSR: Ini tentang Tanggung Jawab Sosial
October 9, 2008
Oleh: Tarsih Ekaputra
Lester Thurow, tahun 1066 dalam bukunya “The Future of Capitalism”, sudah memprediksikan bahwa pada saatnya nanti, kapitalisme akan berjalan kencang tanpa perlawanan. Hal ini disebabkan, musuh utamanya, sosialisme dan komunisme telah lenyap. Pemikiran Thurow ini menggaris bawahi bahwa kapitalisme tak hanya berurusan pada ekonomi semata, melainkan juga memasukkan unsure social dan lingkungan untuk membangun masyarakat, atau yang kemudian disebut sustainable society. Padajamannya, pemikiran Thurow tersebut sulit diaplikasikan, hal ini ia tuliskan seperti there is no socialn ‘must’ in capitalism.
Jaman pun berlalu, tahun 1962, Rachel Calson lewat bukunya “The Silent Spring”, memaparkan pada dunia tentang kerusakan lingkungan dan kehidupan yang diakibatkan oleh racun peptisida yang mematikan. Paparan yang disampaikan dalam buku “Silent Spring” tersebut menggugah kesadaran banyak pihak bahwa tingkah laku korporasi harus diluruskan sebelum menuju kehancuran bersama. Dari sini CSR (Corporate Social Responsibility) pun mulai digaungkan. Tepatnya di era 1970-an. Banyak professor menulis buku tentang pentingnya tanggung jawab sosial mperusahaan, di samping kegiatan mengeruk untung. Buku-buku tersebut antara lain; “Beyond the bottom line” karya Prof. Courtney C. Brown, orang pertama penerima gelar Professor of Public Polecy and Business Responsibility dari Universitas Columbia.
Baca Lengkapnya


