Kisah Cinta Lengkap Nabi Muhammad bersama Istri-Istrinya

Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu hendak berbuat baik kepada saudara-saudaramu  (seagama). Demikianlah telah tertulis dalam Kitab (Allah).(QS al-Ahzāb [33]: 6 )

Inilah kisah cinta manusia paripurna yang pada usia 40 tahun diangkat menjadi utusan terakhir Allah SWT. Beliau adalah bukti nyata bahwa cinta itu perlu dibingkai syariat agar memenuhi haknya. Beliaulah wujud cinta manusia sejati. Setiap kali menyimpang sedikit saja dari haknya, naluri kemudian wahyu akan meluruskannya. Ya, membawanya kembali pada cinta hakiki, cinta karena Ilahi.

Rasulullah saw. adalah uswah dalam seluruh aspek kehidupannya. Tidak hanya menyangkut syariat yang menjadi rambu-rambu amal umat manusia, tetapi juga menyangkut aspek suluk, muamalah, bermasyarakat, bernegara, dan aspek-aspek lainnya. Interaksi pria-wanita yang bermuara pada rumah tangga tidak luput dari contoh-contoh yang dipraktikkannya. Namun, amat jarang umat ini meniru teladan percintaan beliau dengan pasangan-pasangannya.

Kealpaan gambaran aspek ini berbuah pada semrawutnya keluarga kaum muslimin yang notabene sudah banyak mengerti syariat, lurus berakidah, baik dalam muamalah maupun bagus akhlak pada umumnya. Bayangkan, poligami saja masih banyak dipermasalahkan oleh umat mengingat banyaknya fenomena ketidakadilan dalam kasus tersebut. Padahal, Nabi tidak lupa memberikan keteladanan dalam urusan berumah tangga ini dengan lebih dari seorang.

Kini saatnya kita menelusuri perjalanan cinta beliau semenjak belum menjadi Rasul al-Mushthafa sampai akhir hayat beliau.

 

Dengan Khadijah binti Khuwailid

Ketika itu, menggembala kambing menjadi profesi bagi kebanyakan orang yang susah mendapatkan pekerjaan selainnya. Ia adalah profesi mengasyikkan meski upahnya tidak seberapa. Para penggembala dapat menikmati indahnya alam semesta di alam terbuka. Kesempatan untuk memandangi tingginya langit dan luasnya hamparan bumi menjadi peluang untuk merenungkan keagungan penciptanya.

Muhammad remaja adalah salah seorang yang tergabung dalam bagian dari kelompok itu. Sudah bertahun-tahun dijalaninya profesi tersebut tanpa harus diajari cara menggembala yang baik, ia sudah langsung profesional dengan hanya melihat satu dua kali seniornya. Ia pun mendapatkan kepercayaan masyarakat sekitar untuk menggembalakan ternak-ternak mereka.

Andaikata Muhammad muda dibiarkan sebagai penggembala, tentu ia tidak akan tertarik pada harta. Ia akan bahagia menikmati dunianya sebagaimana para penggembala lainnya. Mereka telah menggabungkan kalbu alam raya dengan nurani. Mereka lebur dalam kesyahduan alam semesta. Ia keluar di pagi buta menggiring gembalaannya ke padang rumput dan baru pulang dengan tenang di sore hari.

Namun, Abu Thalib punya kehendak lain. Kemiskinan menjadi latar belakang untuk mendorong Muhammad agar lebih maju dalam bidang ekonomi agar ia dapat membantu ekonomi sang paman. Itulah sebabnya ketika seorang saudagar kaya di Mekah, Khadijah binti Khuwailid mencari tambahan pekerja, Abu Thalib memanggil keponakannya itu.

“Anakku,” kata Abu Thalib, “Pamanmu ini bukan orang kaya. Kebutuhan ekonomi makin mendesak. Paman mendengar, Khadijah akan mengupah orang dengan dua ekor unta. Namun, paman tidak setuju jika kamu hanya mendapat upah seperti itu. Setujukah kamu jika hal itu paman bicarakan dengannya?”

“Terserah paman,” jawab Muhammad singkat.

Abu Thalib senang dengan keponakannya yang responsif. Ia segera mendatangi Khadijah dan menyampaikan maksudnya. “Wahai Khadijah, setujukah kamu mengupah Muhammad? Aku mendengar engkau mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Namun, untuk Muhammad, saya tidak setuju jika kurang dari empat ekor.” Abu Thalib menawar.

“Kalau permintaanmu untuk orang yang jauh dan tidak kusukai, akan kukabulkan. Apalagi buat orang dekat dan kukenal kebaikannya.”

Abu Thalib merasa puas dengan jawaban Khadijah. Ia segera kembali menemui keponakannya. “Ini karunia yang dilimpahkan Tuhan kepadamu.”

Setelah mendapat nasihat paman-pamannya, Muhammad mulai menjalani bisnis dengan Khadijah. Sejujurnya, ia bukanlah karyawan biasa. Jika disebut karyawan, upahnya terlalu tinggi untuk saat itu. Oleh karena itu, penulis menyebutnya partner. Ya, Muhammad adalah partner bisnis Khadijah. Beliau berbagi keuntungan dengan Khadijah dengan income yang diperoleh minimal empat ekor unta untuk sekali perjalanan ekspor-impor. Ia berangkat pertama kali bersama Maisarah, seorang budak Khadijah, menuju Syam. Bersama kafilah, Muhammad menempuh rute yang dahulu pernah ditempuhnya sewaktu berdagang bersama pamannya. Kala itu, Muhammad kecil berusia dua belas tahun.

Kecerdasannya yang mumpuni ditambah akhlaknya yang menawan dengan penampilan yang simpatik membuat para pembeli nyaman bertransaksi dengan beliau. Promosi dari mulut ke mulut berjalan secara alami tanpa ada komando. Seorang pembeli apabila telah usai bertransaksi, ia kembali ke daerah asalnya atau ke masyarakatnya. Lalu, ia menceritakan apa yang ia lihat dan alami dengan pedagang barunya, Muhammad. Semua terkesan, senang, dan puas. Jika sebuah perniagaan sudah demikian, apa yang dihasilkan si pedagang selain keuntungan dan laba besar?

Dalam waktu yang tidak lama, dagangan Muhammad sudah laris. Budi pekerti dan kefasihan bicara menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli. Tidak heran jika laba yang diperoleh partner baru Khadijah itu jauh lebih banyak dan lebih cepat daripada para pekerja Khadijah sebelumnya. Maisarah sendiri menaruh rasa hormat tersendiri kepada Muhammad. Kekagumannya kepada pribadinya yang agung, membuat semangat kerjanya juga tinggi. Ia pun membantu bisnis Muhammad secara sukarela.

Dalam perjalanan pulang, “Cepatlah engkau menemui Khadijah dan ceritakan pengalamanmu. Tentu ia akan senang,” saran Maisarah kepada Muhammad muda.

Tengah hari Muhammad tiba di Mekah. Beliau langsung menuju rumah Khadijah dengan setumpuk laba dan segudang berita gembira. Dengan wajah cerah tidak menampakkan lelah, Muhammad tiba. Ketika itu, Khadijah sedang berada di ruang atas. Ketika melihat Muhammad memasuki pekarangan rumahnya, ia segera turun menyongsong. Didengarnya Muhammad bercerita dengan fasih dan jelas tentang perjalanan niaganya. Dikisahkannya pula cara beliau hingga dalam waktu singkat beroleh laba yang melimpah. Dengan antusias, Khadijah mendengarkannya sambil ia belajar dari Muhammad.

Beberapa waktu berselang, Maisarah datang. Ia bercerita kepada Khadijah tentang respons para pembeli terhadap kepiawaian Muhammad dalam berbisnis. Tentang kejujurannya, kecerdasaannya, kefasihan lisannya, tentang budi pekertinya, dan lain-lain yang membuat para pembeli senang berbisnis dengan Muhammad. Tentu saja Khadijah tambah kagum pada diri dan akhlak partner barunya itu.

Jika dahulu hanya mendengar atau melihat siapa pemuda Muhammad, sekarang Khadijah mengalami dan menyaksikan langsung berbagai kelebihan yang dimilikinya. Dalam waktu singkat, kegembiraan dan kekaguman kepada Muhammad berubah menjadi rasa cinta yang menghunjam ke jantung hati Khadijah. Makin hari perasaan yang dahulu pernah ia alami pada lelaki (mantan suaminya), kini hadir lebih dahsyat. Usia yang terpaut jauh kala itu, memang tidak begitu masalah. Apalagi untuk seorang janda sekelas Khadijah. Getar-getar asmara tidak terasa telah menyusup kian dalam ke lubuk hatinya.

Cinta memang dahsyat. Ia tidak terlihat, tetapi rasa manisnya tidak sebanding jika disejajarkan dengan gula. Namun, ia amat pahit melebihi brotowali (sesuatu yang sangat pahit) jika tidak menemui kekasihnya. Ia menjadi motivasi terkuat dalam berbuat melebihi sekadar niat. Ia anugerah rahmat jika benar tempat berlabuhnya. Sebaliknya, ia laknat jika salah menapak jalannya.

Dengan hati berdebar, Khadijah menyampaikan perasaan itu kepada sahabatnya, Nufaisa binti Munya. Ia menyambut gembira hasrat sahabatnya itu karena ia sendiri sudah berkali-kali menghasung Khadijah agar segera mencari pendamping hidupnya. Keduanya lalu berbincang-bincang tentang cara yang memudahkan tercapainya maksud secara benar dan halal.

Nufaisa segera menemui Muhammad untuk menjajaki. “Kenapa kamu tidak mau nikah?” tanyanya.

Barangkali baru sekali itu Muhammad mendapat pertanyaan yang menusuk kalbu. Namun, dirinya diliputi oleh budi pekerti yang agung. Tanpa harus menjawab macam-macam dan tidak menaruh curiga sedikit pun, Muhammad menjawab, ”Saya tidak punya apa-apa sebagai persiapan pernikahan.”

”Jika semua itu disediakan dan yang melamarmu itu seorang wanita cantik, kaya, serta terhormat, maukah kamu menerimanya?”

”Siapa itu?”

”Khadijah!”

Tercengang Muhammad muda mendengar jawaban Nufaisa. Beliau tidak mengira arah pembicaraan itu ke arah partner bisnisnya. Dengan tetap tenang, nada yang kalem, tetapi tampak serius, Muhammad bertanya lagi, ”Dengan cara bagaimana?”

”Serahkan kepadaku,” jawab Nufaisa meyakinkan.

Ia lalu pamit untuk menyelesaikan urusan selanjutnya. Dengan hati riang, Nufaisa kembali ke Khadijah. Nufaisa menganggap itu perjodohan yang menarik dan penuh berkah.

Nufaisa menyampaikan hasil diplomasinya kepada Khadijah. Disampaikannya bagaimana ekspresi Muhammad ketika disebut nama Khadijah, wanita yang ingin menikah dengannya, ia cepat bereaksi. Muhammad sangat responsif. Ia meyakinkan saudaranya bahwa Muhammad sangat welcome dengan pinangannya.

Bukan main gembira Khadijah mendengar penuturan Nufaisa. Hatinya berbunga-bunga. Pohon asmara dalam kalbunya tumbuh kembali setelah sekian lama layu karena tidak ada yang menyirami. Siraman cinta Muhammad membawa berkah bagi Khadijah. Oleh karena itu, ia tumbuh melebihi kecepatan kilat yang menyambar pohon di bumi.

Beberapa saat kemudian, Khadijah mengatur waktu untuk hari pertemuan keluarganya dengan keluarga Muhammad. Singkat cerita, pertemuan pun disepakati. Kedua keluarga membahas hari H pernikahan dua insan mulia yang kelak namanya mengharumi jagad bumi sampai yaumil qiyamah.

Dengan dua puluh ekor unta muda sebagai mahar, Muhammad melangsungkan akad pernikahan dengan Khadijah. Tanpa harus memikirkan tempat tinggal selanjutnya setelah menikah atau bagaimana kelanjutan perjalanan bisnisnya, mereka berdua menjalani saat-saat penting dalam hidupnya. Peristiwa yang hanya sekali terjadi selama hidupnya. Dalam kesyahduan, prosesi pernikahan dan tradisi Quraiys dilaksanakan dengan sahaja. Setelah itu, Muhammad tinggal tidak sekadar serumah dengan kekasih hatinya, tetapi ia tidur sekamar. Ya, seranjang. Lembaran-lembaran hari mulai diisi oleh keduanya dengan semangat baru dan gairah menggebu dengan limpahan  cinta.

Dengan kepercayaan penuh, Khadijah menyerahkan seluruh pengurusan harta kepada suaminya. Sambil tetap berbinis, Muhamad tidak memutus aktivitasnya untuk tetap bersama warga menjaga keharmonisan dan keamanan Mekah.

Keluarga sakinah yang diarunginya telah melahirkan generasi yang baik. Keduanya mempunyai dua anak laki-laki, Qasim dan Abdullah, yang masing-masing dijuluki ath-Thahir dan ath-Thayib, serta empat putri, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah.

Benar, sebelum Muhammad diangkat menjadi rasul, ketenteraman dan kedamaian rumah tangga Khadijah boleh dibilang tiada tanding, tiada banding. Harta melimpah, martabat keluarga di atas, kedudukan di mata masyarakat tinggi, dan berbagai kenikmatan lain yang susah bandingannya. Semua itu tidak melenakan keluarga tersebut dari berbuat kebajikan.

Setelah Muhammad diangkat menjadi rasul, kedamaian keluarga berganti menjadi perjuangan yang melelahkan, penuh pengorbanan, dan patriotisme. Islam telah mengubah kebahagiaan semu menjadi kebahagiaan sejati meskipun harus mengorbankan seluruh yang ada demi meraih kejayaan abadi. Dalam keadaan sangat sederhana, Khadijah wafat dalam usia 65 tahun. Ia beristirahat dari kepayahan berdakwah dengan membawa sepenuh bumi pahala dan sepetala langit ganjaran kebaikan.

Selamat jalan, wahai ummul mukminin sejati.

 

Dengan Saudah binti Zam’ah

Wafatnya Abu Thalib yang disusul oleh wafatnya Khadijah, membuat hati Rasulullah teriris. Dua orang yang melindungi dan menjadi tempat sandaran beliau kini telah tiada untuk selama-lamanya. Tampak kesedihan  tergurat di wajah putih beliau. Dari hari ke hari gurat duka itu belum juga sirna. Para sahabat pun mulai merisaukan pribadi Nabi.

‘Aam huzn, tahun dukacita menjadi episode tersendiri bagi kehidupan pribadi Nabi. Sementara itu, permusuhan yang dilancarkan kaum musyrikin Quraisy makin menjadi-jadi. Mereka memandang tidak ada lagi orang yang melindungi Muhammad dari makar mereka. Jadilah kaum muslimin bulan-bulanan mereka di setiap kesempataan yang memungkinkan.

Para sahabat menganjurkan agar beliau segera menikah demi ketenangan jiwanya dan demi misi dakwah yang tengah diembannya. Mereka berharap, semoga pernikahan Nabi dengan istri barunya dapat melupakan memori beliau dari Khadijah yang memang tidak akan pernah kembali. Namun, siapakah yang dapat menghubungkan beliau dengan calon istrinya? Mengingat hampir semua sahabat segan untuk berbicara langsung dengan beliau mengenai urusan pribadinya.

Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang beriman, apalagi untuk seorang rasul-Nya. Di antara banyak sahabat ataupun shahabiyah yang segan untuk menawarkan calon pengganti Khadijah, Khaulah binti al-Hakim, seorang shahabiyah yang memiliki kedekatan khsusus dengan Nabi datang menemui beliau. Ia menawarkan calon istri yang cocok untuk beliau.

”Tidakkah engkau ingin menikah lagi, wahai Rasulullah?” tanyanya diplomatis.

”Siapa orang setelah Khadijah?” tanya Nabi.

”Kalau engkau menghendaki, ada seorang gadis atau kalau engkau menghendaki yang lain, ada pula yang janda.”

”Siapa yang gadis?”

”Aisyah, anak dari orang yang paling engkau cintai.”

Rasulullah terdiam sesaat. Lalu, ”Siapa yang janda?”

”Saudah binti Zam’ah, wanita mukminah yang setia mengikuti ajaranmu.”

Demikianlah Khaulah berbincang dengan Nabi untuk urusan khusus. Setelah terjadi ’negosiasi’, Rasulullah mengizinkan untuk melamar keduanya. (Kisah cinta Nabi dengan Aisyah akan diuraikan sebentar lagi pada tempatnya, Insya Allah). Tak lama berselang, menikahlah Nabi dengan Saudah.

Saudah adalah janda dari Sakran bin Amr. Dahulu ketika cahaya Islam menyemburat bak fajar di pagi hari, mereka berdua langsung menyambutnya. Kepayahan mempertahankan keyakinan mereka rasakan sebagaimana kaum muslimin lainnya. Dengan setegar gunung, bara api derita mereka genggam hingga ada jalan keringanan dengan hijrah ke Habasyah. Mereka dan sejumlah kaum muslimin meninggalkan kampung halaman, pergi mengarungi rimba ketakutan, berselimut cuaca derita demi agama yang dicintainya, Islam.

Suatu ketika mereka mendengar sudah ada perbaikan suasana dakwah di Mekah. Mereka pun kembali dengan harap-harap cemas. Takdir Allah berlaku bagi Sakran, ia meninggal setibanya di Mekah setelah penderitaan panjang di pengasingan. Padahal, berita positif yang diterima kaum muslimin yang berhijrah isapan jempol belaka. Sebab, justru Quraisy makin gencar menyiksa dan melakukan serangkaian teror terhadap kaum muslimin. Siksaan demi siksaan tidak kunjung henti menimpa orang-orang beriman. Dalam kondisi duka hati dan payah begini, Saudah dinikahi Nabi saw.

Seorang diri Saudah mendampingi Rasulullah saw. menggantikan Khadijah. Ia tidak saja melayani Nabi, tetapi juga mengurusi anak-anak beliau. Selama lebih dari dua tahun rutinitas itu ia jalani dengan penuh tanggung jawab hingga Aisyah hadir dalam rumah tangga Rasulullah.

Saudah menjalani masa-masa sulit bersama Nabi. Di tengah tekanan dan intimidasi, perintah hijrah ke Madinah turun dari langit. Para sahabat menyambut gembira seruan hijrah itu. Mereka hijrah secara sembunyi-sembunyi dengan tidak bergerombol. Nabi pun berhijrah. Sementara Saudah bersama keluarga Nabi masih tinggal di Mekah.

Selang beberapa waktu, setelah pembangunan masjid dan tempat tinggal Nabi berwujud, ia dan keluarga Nabi dijemput oleh Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi atas perintah Rasulullah. Berangkatlah ahlu bait ke Madinah dengan kawalan para pendekar kelas kakap. Mereka aman hingga tiba di Madinah. Rasulullah dan Saudah hidup tenteram dalam suasana perjuangan.

Dalam satu kesempatan, Nabi menawarkan kepada Saudah barangkali ia ingin diceraikan olehnya. Dengan cara begitu, Nabi ingin memberi kebebasan kepada Saudah untuk memilih yang ia sukai. Jangan sampai ada image (anggapan) bahwa beliau menikahinya karena rasa iba semata karena duka yang dialaminya sepeninggal suaminya. Adapun sekarang masanya sudah tenteram, pelipur lara sudah banyak, kedamaian pun dapat dirasakan kaum muslimin. Beliau tidak ingin Saudah berada di sampingnya hanya karena menuruti keinginan Nabi tanpa adanya rasa cinta dari hatinya.

Ditawari demikian, ummul mukminin, Saudah tidak banyak bereaksi. Ia hanya membisikkan sesuatu di telinga kekasihnya, ”Demi Dzat yang mengutusmu dengan hak, aku tidak memiliki hasrat untuk menikah lagi dengan pria lain. Aku sangat berharap pada hari Kiamat kelak aku dibangkitkan sebagai salah seorang istrimu.”

Saudah akhirnya memilih tetap sebagai istri Nabi hingga ajal menjemputnya. Ia adalah ummul mukminin dengan segenap pengorbanan yang diberikannya untuk Islam dan muslimin.

 

 

Dengan Aisyah binti Abu Bakar

”Aku melihat dirimu dalam mimpiku dua kali,” kata Nabi saw. kepada Aisyah, ”Malaikat datang kepadaku membawamu dalam selembar kain sutra seraya berkata, ’Inilah istrimu’. Ketika kain yang menutupi wajahmu aku singkapkan, ternyata kamulah orangnya.”

Lalu, aku (Nabi) berkata, ”Jika itu memang dari Allah, pasti akan terlaksana.”

Sebelumnya pernah disinggung bahwa Khaulah binti al-Hakim menawarkan gadis untuk pengganti Khadijah. Kala itu, Nabi langsung setuju sebab beliau sendiri sudah mendapat petunjuk sebelumnya. Tanpa harus dilakukan persiapan macam-macam, beliau menikah dengan sang gadis pujaannya. Siapakah gadis itu, dan atas dasar apa Nabi mengiyakan tawaran Khaulah?

Riwayat tersebut merupakan jawabannya. Ia menceritakan kepada kita bahwa sebelum Khaulah datang menawarkan Aisyah, Nabi sudah pernah didatangi Jibril setidaknya dua kali dalam mimpinya. Itu merupakan ar-ru’ya ash-shadiqah, mimpi yang benar. Ketika jalan itu tampak di hadapannya, Nabi langsung menyambutnya dengan sepenuh kelapangan jiwa.

Untuk melihat lebih detail, mari kita ikuti kembali proses perjodohan Nabi dengan Aisyah.

“Tidakkah engkau ingin menikah lagi, ya Rasulullah?” tanya Khaulah.

“Siapa orang setelah Khadijah?” tanya Nabi.

“Jika engkau menghendaki ada seorang gadis. Atau jika engkau menghendaki yang lain, ada pula yang janda.”

“Siapa yang gadis?”

“Aisyah, anak dari orang yang paling engkau cintai.”

Rasulullah terdiam sesaat. Lalu,

“Siapa yang janda?”

“Saudah binti Zam’ah, wanita mukminah yang setia mengikuti ajaranmu.”

“Pergilah dan katakan kepada mereka berdua tentangku.”

Tidak menunggu waktu lagi, Khaulah langsung meluncur ke rumah Abu Bakar. Ia bertemu istrinya, Ummu Ruman.

“Wahai Ummu Ruman, sungguh Allah telah mendatangkan kebaikan dan keberkahan kepadamu. Rasulullah mengutusku untuk meminang Aisyah untuknya.”

“Aku senang sekali mendengar kabar ini. Tunggulah sampai Abu Bakar pulang.”

Tak lama menunggu, datanglah Abu Bakar. Khaulah menyampaikan kembali maksud kedatangannya.

“Wahai Abu Bakar. Sungguh, Allah telah mendatangkan kebaikan dan keberkahan kepadamu. Rasulullah mengutusku untuk meminang Aisyah untuknya.”

“Apakah Aisyah pantas untuk Rasulullah? Aisyah hanya anak dari saudaranya.” kata Abu Bakar merendah.

Dijawab demikian Khaulah terdiam. Ia mengerti bahwa ada sesuatu yang mengganjal di hati sahabat setianya Rasul itu. Ia harus mengomunikasikannya terlebih dahulu dengan Rasulullah. Ia minta pamit untuk menanyakan kepada Rasulullah saw.

“Temui lagi Abu Bakar dan sampaikan pesan dariku, ’kamu adalah saudaraku dalam Islam dan aku adalah saudaramu. Oleh karena itu, anakmu pantas bersanding denganku’,” pesan Nabi kepada Khaulah.

Untuk kedua kalinya Khaulah menemui Abu Bakar. Ia menyampaikan pesan Rasulullah kepadanya. Raut Abu Bakar tampak bersinar-sinar mendengarkan cerita Khaulah.

“Bawalah Rasulullah kepadaku. Jika beliau datang, aku akan menikahkannya dengan Aisyah.”

Dengan izin Allah, akad nikah pun dilangsungkan setelah Abu Bakar membatalkkan terlebih dahulu pinangan Jabir bin Muth’im kepada Aisyah. Terdapat perbedaaan riwayat yang menceritakan umur Aisyah saat menikah. Yang paling masyhur di kalangan umat Islam adalah 7 tahun dan baru berkumpul dengan Nabi setelah berusia 9 tahun.

Ketika Nabi dan Abu Bakar hijrah, keluarga mereka ditinggal di Mekah. Setelah kira-kira satu bulan, Zaid bin Haritsah datang dari Madinah untuk menjemput keluarga Nabi dan keluarga Abu Bakar termasuk Aisyah.

“Ketika aku di padang sahara,” kata Aisyah,  “Untaku lari, sedangkan aku berada di muhiffah (rumah di atas punuk unta), bersama ibuku. Ibuku berteriak minta tolong, ‘Anakku … anakku ….! Abdullah  bin Abu Bakar dan Thalhah bin Ubaidillah bergegas menarik kembali unta yang lari. Perjalanan pun dapat dilanjutkan tanpa kurang suatu apa pun” kenang Aisyah. Akhirnya, mereka sampai di Madinah dengan selamat.

Di kota itu Aisyah menempati rumah baru di lingkungan masjid bersama Nabi. Tidak seperti kebanyakan rumah para petinggi negara atau para pemegang kekuasaan, rumah Nabi hanya terbuat dari batu bata yang beratapkan pelepah kurma. Di dalamnya terdapat sebuah ranjang dari kulit yang dialasi sabut. Lantainya hanya tanah yang dilapisi tikar. Muka pintunya ditutup dengan tirai dari serabut. Di rumah semacam itulah Aisyah hidup berumah tangga bersama kekasihnya di dunia dan akhirat. Ia menjadi saksi ahli bagi peristiwa-peristiwa yang belakangan disebut  hadits. Ia menjadi soko guru hadits, narator ulung, dan referensi ahli ilmu.

Laiknya kehidupan istri yang dipoligami, percekcokan antarmadu adalah hal lumrah. Aisyah termasuk yang paling pencemburu terhadap ’rival-rivalnya’, apalagi terhadap Mariyah yang dianggapnya sebagai pendatang dari kelas budak. Barangkali itu wajar mengingat ia adalah satu-satunya istri Nabi yang dinikahi saat masih perawan, saat masih sangat belia. Tujuh tahun. Ia rajin dan paling cerdik menarik cinta Nabi. Amr bin Ash pernah menanyakan kepada Nabi,

“Siapa orang yang paling engkau cintai?”

“Aisyah,” jawab Nabi.

“Dari kalangan pria?” tanya Amr bin Ash selanjutnya.

“Bapaknya.”

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Anas bin Malik. Ya, itulah barangkali khasiat perawan yang mengalahkan janda-janda.

Aisyah adalah profile istri paripurna. Ia dapat berkhidmat kepada suami sepenuh cinta. Ia cerdas, kuat hafalannya sehingga banyak sekali hadits yang diriwayatkannya. Ia ahli politik hingga mampu memimpin para sahabat senior sekalipun (kepiawaian itu misalnya terbukti saat waqiatul jamal). Ia adalah istri Nabi yang diwahyukan oleh Jibril kepada Nabi dan ditengokinya. Contoh riwayat yang mengatakan bahwa Aisyah diingati Jibril adalah sabda Rasulullah kepadanya,

“Wahai Aisyah, Jibril titip salam kepadamu.”

 

Dengan Hafsah binti Umar

Ketika Khunais bin Hudzafah as-Sahmi, suami Hafshah, meninggal, yang berduka tidak hanya ia sebagai istrinya, Umar bin Khattab selaku mertua juga demikian. Umar sangat prihatin derngan keadaaan putrid kesayangannya. Ia tidak ingin melihat anaknya hidup sendirian terlalu lama. Tidak ada yang mengurusi dan tidak ada tempat memadu kasih.

Setelah masa iddahnya selesai, sejenak Umar berpikir siapa gerangan yang dapat dimintai tolong untuk menikahi putrinya. Pikirannya tertuju pada Usman yang baru ditinggal mati oleh istrinya juga, Ummu Kultsum.

“Aku berharap kamu sudi menikahi Hafsah,” kata Umar.

“Aku akan mempertimbangkannya lebih dahulu,” jawab Usman.

Jawaban yang sebenarnya kurang diharapkan oleh Umar. Ia menginginkan jawaban cash agar hatinya reda dari gundah. Apalagi setelah beberapa hari berlalu, Usman memberikan jawaban yang mengecewakan Umar.

“Sementara, aku belum mau menikah lagi.”

Umar bergegas menemui sahabatnya, Abu Bakar. Umar menceritakan apa yang menimpa putrinya, Hafsah. Ia sungguh tidak tahan melihatnya termenung seorang diri, memikirkan nasib yang lagi menimpanya.

“Aku berharap kamu sudi menikahi Hafsah,” kata Umar setengah memelas kepada sahabatnya.

Abu Bakar terdiam. Ia tidak merespons permintaan sahabat dekatnya. Umar meninggalkan sahabatnya karena menangkap isyarat keengganannya.

Dengan hati gundah gulana bercampur pilu dan sedikit rasa jengkel, Umar menghadap Rasulullah. Ia menceritakan apa yang menimpa putrinya sepeninggal Khunais dan yang ia lakukan terhadap dua sahabatnya.  Dengan tersenyum, Rasulullah berujar,

“Hafsah akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Usman, Usman pun akan menikah dengan seorang wanita yang lebih baik daripada Hafsah.”

Umar tidak mengira apa pun terhadap ucapan Nabi, kecuali harapan positif dari apa yang akan dialami putrinya nanti. Betapa terkejutnya ia ketika Rasulullah meminang putrinya untuk dirinya. Tidak perlu menanyakan apa pun dan tidak menunggu sedetik pun, Umar menikahkan Hafsah kepada manusia terbaik sejagad raya. Umar pun lega.

Suatu saat, Abu Bakar menemui Umar.

“Apakah kamu marah ketika kamu menawarkan Hafsah kepadaku, kemudian aku tidak memberikan jawaban?”

“Ya,” jawab Umar singkat.

“Sesungguhnya yang menghalangiku untuk menemuimu kembali dan menjawab permintaanmu karena aku mengetahui Rasulullah telah menyebut-nyebut Hafsah. Akan tetapi, aku tidak mungkin menyebarkan rahasia beliau. Jika saja beliau tidak jadi menikahinya, aku pasti akan menikahinya,” jelas Abu Bakar.

Hafsah masuk ke dalam rumah tangga Rasulullah dan di sana sudah ada madunya, Saudah dan Aisyah. Kaum muslimin di belakang hari dapat mengambil hikmah dari perseteruan antarmadu dari suami termulia. Bahwa memang hal itu tidak dapat dihindari sama sekali. Sehingga yang utama bukan mengentaskan kecemburuan itu, tetapi bagaimana mengelolanya secara baik. Itulah yang telah dicontohkan Nabi.

Gara-gara Hafsah (dan Aisyah), misalnya, Nabi pernah ditegur oleh Allah karena beliau terprovokasi. Waktu itu, untuk mencari keridaan Hafsah, Nabi pernah mengharamkan Mariyah untuk dirinya. Lalu, Allah menurunkan Surah at-Tahrim sebagai teguran kepada beliau.

Bahkan, lebih dahsyat lagi Nabi pernah menceraikan Hafsah karena berbagai sebab. Namun kemudian, beliau ditegur Jibril. Ia memerintahkan Rasulullah untuk merujuk Hafsah karena ia banyak puasa dan qiyamullail. Lebih dari itu, Hafsah adalah istri beliau di surga. Beliau pun merujuknya.

 

Dengan Zainab binti Khuzaimah

Sebelum memeluk Islam, ia sudah dikenal sebagai Ummul Masakin, ibunya orang-orang miskin. Zainab amat dermawan. Ia mengayomi, menyantuni, dan hidup bersama orang-orang miskin. Sungguh, suatu amal yang berderajat tinggi di sisi Allah SWT sehingga apabila Rasulullah saw. mengingkari gelar-gelar jahiliah, tetapi tidak terhadap yang satu ini.

Semenjak ditinggal syahid oleh suami keduanya, Ubaidah bin Harits (sebagian perawi menyebut suami keduanya Abdullah bin Jahsy), tidak ada riwayat yang menyebutkan adanya pinangan oleh para sahabat lainnya. Parasnya yang kurang cantik, tidak menarik minat sahabat-sahabat Nabi untuk menikahinya. Meskipun itu bukan satu-satunya alasan sepinya pinangan terhadapnya, tetapi kenyataan itu pun tidak dapat diingkari. Oleh karena itu, janda mujahid Uhud ini akan merasakan ketidakadilan jika dirinya dibiarkan hidup tanpa pendamping.

Lain para sahabat, lain pula Nabi. Meski wajah Zainab binti Khuzaimah tidak begitu cantik, Nabi menikahinya saat Ummu Salamah (yang kelak jadi istrinya juga) kembali dari Habasyah. Sebagian keterangan menyebutkan bahwa ia masuk ke dalam rumah tangga Nabi pada tahun ketiga hijriah. Dengan mahar sepuluh uqiyyah dan selember selendang, Zainab binti Khuzaimah telah menjadi ummul mukminin.

Namun, ia tidak lama menyertai perjuangan Nabi saw., hanya tiga bulan. Ya, waktu yang sangat sebentar. Ada pula keterangan menyebutkan delapan bulan. Dengan demikian, ia adalah istri Nabi yang meninggal kedua setelah Khadijah.

Pernikahannya dengan Nabi lebih karena dukungan Nabi terhadap misi mengayomi orang-orang miskin yang dihasungnya selama ini. Di samping tentu saja Nabi ingin menolong dan meringankan beban hidup sepeninggal suaminya.

Benar, mencintai seseorang karena Allah tidak semata-mata karena kecantikannya. Banyak motif lain yang mengarahkan dua insan lawan jenis untuk menikah karena Allah, lalu setelah itu, cinta bersemi seiring dengan perjalanan rumah tangga mereka.

Allah Maha Mengetahui kepada siapa anugerah cinta akan diberikan.

 

Dengan Maimunah binti Al-Harits

Nama asli Maimunah adalah Barrah binti Harits al-Hilaliyyah. Ia adalah wanita pertama yang beriman setelah Khadijah. Nabi memang selalu menaruh perhatian khusus kepada wanita-wanita yang masuk Islam pertama-tama, lalu ditinggal syahid oleh suaminya. Salah seorang dari mereka adalah terhadap Maimunah. Pada kasus-kasus itu tampak pernikahan Nabi semata-mata mengharap rida Allah. Kenyataan itu menegaskan tuduhan dusta para orientalis yang menuduh Nabi sebagai manusia hiperseks, mengumbar asmara dan syahwat.

Maimunah adalah nama pemberian Nabi sebagai tanda cinta kepadanya. Ia adalah saudara seibu Zainab binti Khuzaimah yang juga istri Nabi saw. Ketika Barrah berumur dua puluh enam tahun, Abu Ruhm, suaminya meninggal. Ia tidak ingin hidup menjanda lebih lama lagi. Setelah habis masa iddahnya, ia menyampaikan keinginannya untuk diperistri Nabi kepada saudara kandungnya, Ummu Fadhl.

Ummu Fadhl selanjutnya menceritakan apa yang disampaikan saudara kandungnya kepada suaminya, Abbas. Setelah memahami persoalan, Abbas menyampaikan hal itu kepada keponakannya, Rasulullah saw. Gayung pun bersambut, Rasulullah menyetujuinya.

Dalam satu riwayat, Barrah sendiri yang langsung menawarkan dirinya kepada Nabi saw. sehingga turun ayat ini:

“…. dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada nabi kalau nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin ….” (QS al-Ahzāb [33]: 50 )

 

Pada tahun ketujuh hijriah, akad nikah dilangsungkan. Ketika itu, Rasulullah hendak melakukan Umrah ke Mekah pada bulan Dzulqa’dah. Ketika sampai di Sarif, suatu tempat dekat Kota Mekah, Abbas menikahkan Nabi kepada Maimunah. Dengan izin Allah, kelak Maimunah meninggal di tempat yang sama dengan dilangsungkannya akad nikah tersebut.

Ketika Aisyah mengingat Maimunah, ia pernah berkata, “Maimunah sudah tiada. Demi Allah, ia adalah orang yang paling bertakwa dan paling suka menyambung tali silaturahmi daripada kami.”

 

Dengan Ummu Salamah

Nama aslinya adalah Hindun binti Suhail. Ia tumbuh di lingkungan bangsawan Quraisy. Ayahnya, Suhail, adalah pemimpin kaumnya yang sangat berwibawa. Ia termasuk salah seorang bangsawan kaya dan ahli derma. Saat masih gadis, banyak pemuda Mekah tertarik kepadanya. Namun, yang berhasil memikat hatinya adalah Abdullah bin Abdul Asad, seorang penunggang kuda terkenal yang gagah berani dari suku Quraisy.

Dalam bahtera rumah tangga yang diarunginya, mereka mendapat cahaya Islam yang menyinari qalbunya. Mereka pun menjadi barisan dai-daiyah yang berjuang dengan segenap jiwa dan harta. Sejarah mencatat, pasca Perang Uhud, Abdullah bin Asad ditunjuk oleh Rasulullah untuk memimpin kaum muslimin menghadapi serangan Bani Asad. Peperangan itu berhasil dimenangkan oleh kaum muslimin. Namun, suami Hindun terluka parah dan meninggal dunia beberapa saat kemudian.

Dari pernikahannya dengan Abdullah bin Abdul Asad, Hindun dikaruniai beberapa orang anak; Zainab, Salamah, Umar, dan Durrah. Ummu Salamah adalah julukan baginya karena salah seorang anaknya bernama Salamah.

Sehabis masa iddahnya, para sahabat terkemuka bersegera meminang Ummu Salamah. Kultur itu biasa terjadi sebagai tanda penghormatan atas kemuliaan almarhum suaminya semasa hidup. Di antara mereka tercatat Abu Bakar dan Umar. Namun, Ummu Salamah menolak semua pinangan. Ummu Salamah masih mengingat  perjuangan dan kebaikan suaminya. Ia masih ingat obrolan dengan suaminya saat ia masih hidup.

“Aku mendapat berita bahwa seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, kemudian suaminya masuk surga, istrinya pun akan masuk surga jika sepeninggalnya istri tersebut tidak menikah lagi. Dan Allah akan megumpulkan mereka di surga kelak. Demikian pula jika istri yang meninggal lebih dahulu dan suaminya tidak menikah lagi. Oleh karena itu, mari kita berjanji bahwa engkau tidak akan menikah lagi sepeninggalku dan aku berjanji untukmu aku tidak akan menikah lagi sepeninggalmu.” kata Ummu Salamah.

Abu Salamah menimpali, “Maukah engkau menaati perintahku?”

“Aku bermusyawarah hanya untuk taat,” jawabnya mantap.

“Jika aku mati duluan, menikahlah.”

Abu Salamah lalu berdo’a untuk kebaikan kekasihnya itu.

“Ya Allah, karuniakan kepada Ummu Salamah seorang suami  sesudahku yang lebih baik dariku, yang tidak menyusahkan dan menyakitinya.”

Ummu Salamah juga masih teringat obrolan singkat dengan Rasulullah saw. setelah suaminya meninggal,

“Mintalah kepada Allah agar Dia memberimu pahala pada musibahmu serta menggantikan suami untukmu yang lebih baik.”

“Siapa yang lebih baik dari Abu Salamah, wahai Rasulullah?”

Ummu Salamah teringat, Rasulullah hanya berpesan demikian, tetapi beliau tidak menyebutkan nama yang dimaksud saat ia tanyakan. Dalam suasana hati demikian, Hathib putra Abi Balta’ah datang meminangnya untuk Rasulullah.

“Katakan kepada Rasulullah, aku wanita pencemburu. Aku mempunyai tanggungan anak-anak yatim. Dan aku tidak punya wali satu pun sebagai saksi,” jawab Ummu salamah.

Hathib kembali menghadap Rasulullah.

“Katakan kepadanya, kata Rasulullah,  kalau ia pencemburu, maka aku akan berdo’a kepada Allah agar Dia melenyapkan sifat itu. Kalau ia menanggung anak-anak yatim, aku akan mencukupi nafkahnya. Dan jika tidak mempunyai  seorang pun wali untuk saksi, tidak seorang  pun di antara mereka yang membenci pernikahan ini.”

Mendengar penjelasan Rasulullah yang dibawa utusannya, Ummu Salamah dapat memahaminya. Ia menerima pinangan itu.

Ummu Salamah lalu memanggil Umar, anaknya.

“Nikahkan aku dengan Rasulullah,” perintahnya kepada anaknya.  Maka Umar langsung menikahkan ibunya dengan Rasulullah saw.

Semenjak itu, Ummu Salamah ditempatkan oleh Rasulullah di tempat mantan istrinya yang sudah meninggal, Zainab binti Khuzaimah. Ia menjadi ummul mukminin yang cerdas dan jenius. Banyak memberikan kontribusi pemikiran kepada dakwah dan kekasihnya.

Bukti kecerdasannya misalnya ditunjukan saat menyertai perjalanan Rasulullah saw. ke Mekah untuk Umrah. Ketika itu, orang-orang musyrik terusik egonya, mereka melarang kaum muslimin memasuki Mekah. Negosiasi terjadi antara kubu Nabi dan kubu musyrikin hingga menghasilkan perjanjian Hudaibiyah. Para sahabat memandang perjanjian itu sebagai pengebirian hak-hak kaum muslimin. Mereka merasa amat dirugikan dan disepelekan oleh kaum musyrikin. Lebih dari itu mereka mempertanyakan sikap Nabi yang menyetujui perjanjian itu. Para sahabat sedikit ngeyel terhadap keputusan Nabi.

Meskipun batal menunaikan umrah tahun itu, Nabi tetap memerintahkan para sahabat untuk menyembelih qurban dan mencukur rambut. Para sahabat tidak merespons perintah itu. Mereka masih tampak kesal dengan sikap Nabi yang menyetujui perjanjian Hudaibiyah. Diulanginya perintah itu sampai tiga kali, tetapi tetap tidak direspons.

Beliau pergi menemui istrinya, Ummi Salamah. Diceritakanlah apa yang beliau alami dan kejengkelannya kepada sahabat-sahabatnya yang enggan melaksanakan perintah beliau. Ummi Salamah pun menyarankan,

“Wahai Nabi Allah, apakah engkau menghendaki mereka mengerjakan perintah itu? Keluarlah engkau dan jangan berbicara kepada siapa pun sampai engkau menyembelih qurbanmu dan tukang cukur mencukurmu!”

Seperti ada energi baru, Rasulullah langsung bangkit dan melaksanakan saran istri beliau. Ternyata benar, tanpa harus diperintah keempat kalinya, melihat Rasulullah berbuat demikian, para sahabat langsung menirukannya.

 

DENGAN ZAINAB BINTI JAHSY

Ini kisah cinta langitan. Seorang nabi dengan mantan istri anak angkatnya, dipersatukan oleh Allah dalam ikatan rumah tangga. Tidak ada akad nikah apalagi lamaran laiknya prosesi sebuah pernikahan. Tiba-tiba turun ayat dari langit dan Nabi beserta Zainab langsung menuju puncak surga dunia. Ya, itulah gambaran global cinta Nabi dengan Zainab binti Jahsy.

Allah SWT berfirman:

Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya, ”Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti. Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi. (QS al-Ahzāb [33]: 37)

Ayat tersebut membantah dakwaan kaum orientalis yang menuduh Muhammad hiperseks. Mereka mengatakan bahwa Muhammad tidak hanya mencukupkan diri dengan wanita-wanita tidak bersuami, bahkan yang sudah bersuami pun masih dilabrak. Mereka membuat-buat kedustaan untuk menistakan Nabi kita tercinta. Mereka menambahkan bahwa Muhammad tidak tahan melihat keelokan tubuh Zainab saat ia berkunjung ke rumahnya ketika Zaid tidak ada di rumahnya. Ketika itu, Nabi melihat Zainab mengenakan pakaian yang memperlihatkan kecantikannya yang menggoda hati Muhammad. Kata mereka lagi waktu itu Muhammad mengatakan, ”Mahasuci Allah yang dapat membolak-balikkan hati manusia.”

Mereka menegaskan bahwa Zainab sendiri melihat kobaran api cinta di mata Rasulullah saw. Ia juga mendengar ungkapan Rasulullah itu yang menunjukkan ketakjubannya terhadap kecantikan dirinya. Dapat dibayangkan jika dua insan sudah diserang cinta, akibatnya rumah tangga Zaid berantakan karena Zainab meminta cerai kepada suaminya agar ia dapat menikah dengan Nabi.

Demikianlah pernyataan orang-orang bodoh yang hendak menohok Islam dari jantungnya. Untunglah Allah selalu memenangkan perkaranya hingga tidak sedikit ulama yang turun tangan menjelaskan bagaimana proses pernikahan Nabi dengan Zainab dan apa hikmah terselebung di balik pernikahan langit ini. (Kisah selengkapnya silakan baca ZAID BIN HARITSAH  di bagian lain dari buku ini)

Adapun hikmah di balik pernikahan Nabi dengan Zainab binti Jahsy antara lain:

  1. Menjelaskan hukum Islam bahwa anak angkat tidak sama kedudukannya dengan anak sendiri. Jika janda anak sendiri tidak boleh dinikahi oleh ayahnya, sedangkan janda anak angkat tidak mengapa.
  2. Islam memandang sama kedudukan setiap orang, kecuali jika ketakwaannya mempunyai kelebihan. Kedudukan Zaid sama dengan lainnya meski ia berasal dari kalangan budak. Ia bahkan salah seorang panglima di Perang Mu’tah.
  3. Menjelaskan tentang hukum waris bahwa anak angkat tidak mewarisi peninggalan ayah angkatnya. Demikian pula sebaliknya.
  4. Bercerai adalah perkara yang dibolehkan dalam Islam jika alasan syar’i berwujud. Namun, jika sekadar memenuhi hawa tanpa ada dalil penyebabnya, hukumnya dilarang.

 

DENGAN JUWAIRIYAH BINTI AL-HARITS

Juwairiyah adalah putri pemimpin Bani Mustaliq, Harits bin Dhirar. Ia pernah menikah dengan Musafi bin Shafwan, seorang pemuda Khuza’ah yang mati sebelum masuk Islam dalam sebuah peperangan.

Pada tahun 6 H, peperangan terjadi antara kaum Juwairiyah dengan kaum muslimin. Dengan kekuatan 700 orang, kaum muslimin memenangkan peperangan itu. Beliau kemudian membagikan tawanan perang kepada segenap mujahidin. Juwairiyah binti Harits jatuh ke tangan Tsabit bin Qais. Ketika itu ia masih sangat muda, 20 tahun. Paras yang cantik dan tubuh yang indah membuat Juwairiyah istimewa di setiap mata lelaki. Hampir dipastikan, siapa saja lelaki yang memandangnya, pasti akan jatuh cinta kepadanya. Di sisi lain, kecantikan dan kedudukan keluarganya menjadi modal tersendiri bagi Juwairiyah untuk memohon perlindungan atas dirinya.

Dengan penuh percaya diri, Juwairiyah datang menghadap Rasulullah untuk meminta bantuan agar beliau membebaskannya. Ketika Aisyah melihat dari dalam rumah, ia bergumam, “Demi Allah, ketika aku melihatnya di depan pintu kamarku, aku sungguh tidak menyukainya (karena kecantikannya). Aku tahu, Rasulullah akan melihatnya seperti yang aku lihat.”

“Ya Rasulullah, saya putri Harits bin Dhirar, pemimpin Bani Mustaliq. Aku sedang dalam masalah. Aku berada dalam kekuasaan Tsabit bin Qais bin Syamam. Ia berjanji akan membebaskanku, tetapi sampai sekarang belum dilaksanakan. Jadi, aku menemuimu untuk minta bantuan menyelesaikan urusanku,” kata Juwairiyah.

“Maukah kamu yang lebih baik dari itu?” tanya Rasulullah.

“Apakah itu, ya Rasulullah?”

“Aku akan membebaskanmu dan menikahimu.”

“Aku setuju.”

“Kamu sudah bebas.”

Sungguh, sangat singkat proses pernikahan itu. Sekali Juwairiyah datang minta tolong, langsung Rasulullah memberikan pertolongan melebihi apa yang dimintanya. Memang seharusnya demikian cinta. Jika sudah ada salurannya, ia harus ditunaikan hak-haknya agar tidak terjadi kerusakan di muka bumi.

Pernikahan Rasulullah dengan Juwairiyah itu membuat para sahabat membebaskan seratus tawanan Bani Mustaliq. “Aku belum pernah melihat wanita yang paling banyak membawa  berkah bagi kaumnya daripada Juwairiyah,” papar Aisyah.

Berita pernikahan putrinya dengan Rasulullah sampai ke telinga ayahnya, Harits. Ia menyambut berita itu dengan sukacita, terlebih dengan pembebasan banyak keluarga dari kaumnya. Seketika itu juga ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia masuk Islam.

Oh, itu rupanya hikmah alasan rasul menikahi Juwairiyah, yaitu agar kaumnya secara sukarela memeluk Islam secara berbondong-bondong. Itu terbukti.

Juwairiyah wafat pada tahun 50 H dalam usia 65 tahun. Ia dimakamkan di Baqi’ beserta ummahatul mukminin lainnya.

 

 

DENGAN SHAFIYAH BINTI HUYAY

Nama Shafiyah amat dihormati di kalangan Bani Nadhir. Maklum, ia anak kepala suku, Huyay bin Akhtab. Garis keturunannya sampai kepada Harun, saudaranya Musa. Ia pernah menikah dengan Salam bin Abi Haqiq. Untuk kedua kalinya ia menikah dengan Kinanah bin Rabi’ yang tewas dalam Perang Khaibar. Istri-istri mereka termasuk Shafiyah menjadi tawanan kaum muslimin. Mengingat kedudukannya itu, tiada orang yang pantas memperistrinya selain Rasulullah. Beliau pun memerdekakannya terlebih dahulu, lalu menikahinya.

Sejenak menjelang pernikahan, Rasulullah bertanya kepada Shafiyah, “Apa yang kamu pikirkan tentang aku?”

“Ya Rasulullah! Sungguh, aku berangan-angan menjadi istrimu sewaktu aku masih musyrik dan memikirkan bagaimana jika Allah mengabulkannya ketika aku sudah memeluk Islam.”

Saat menikah dengan Rasulullah, Shafiyah belum genap berumur tujuh belas tahun. Ia wanita yang lembut, cerdas, dan sangat bijaksana untuk seukuran usianya. Namun, Rasulullah sempat kecewa dengan sikap Shafiyah yang menolak beliau ketika bermaksud menyelenggarakan walimah pernikahan mereka.

Dalam perjalanan menuju Madinah, mereka berhenti di Shuhaba. Rasulullah melihat Shafiyah berdandan amat memesona. Ia tampak mempersiapkan diri untuk walimah. Tukang sisir merapikan rambutnya, mendandaninya, dan menaburkan wewangian ke pakaian yang dikenakan Shafiyah. Jadilah ia wanita penuh pesona. Lalu, ia menemui Rasulullah.

“Apa yang membuatmu menolak walimah di tempat singgah pertama?” tanya Rasulullah setengah heran.

“Aku mengkhawatirkan keselamatanmu karena tempat itu dekat dengan pemukiman Yahudi.”

Pada malam harinya, Abu Ayub berjaga semalam suntuk. Ia tidak tidur walau sekejap. Pedang disandangnya, berjaga-jaga. Ia mengelilingi kubah tempat Rasulullah dan Shafiyah berada. Pagi-pagi benar, Rasulullah mendengar gerak-gerik Abu Ayub. Rasulullah mendatanginya.

“Apa yang terjadi padamu, wahai Abu Ayub?”

“Ya Rasulullah, aku mencurigai wanita itu. Karenanya aku mengkhawatirkan engkau. Engkau telah membunuh ayah, suami, dan kaumnya. Dia adalah juru bicara dalam perjanjian dengan orang kafir. Aku khawatir wanita itu akan mencelakakanmu.”

Rasulullah lalu berdoa, “Ya Allah, lindungi Abu Ayub seperti ia tetap berjaga untuk melindungiku.”

Karena darah Yahudi yang mengalir dalam diri Shafiyah, ia sering diejek oleh madu-madunya. Ketika Rasulullah melihatnya menangis karena bertubi-tubinya ejekan itu, Rasul membantah dengan berujar, “Itu sama sekali tidak benar.”

Pembelaan Rasul menjadi sugesti kuat bagi Shafiyah. Di waktu berikutnya ketika ia mendapat ejekan dari para madunya, ia katakan dengan tegas, “Bagaimana mungkin kalian lebih baik daripadaku, sedangkan Muhammad adalah suamiku, Harun ayahku, dan Musa pamanku.”

Rasulullah amat lembut dan ramah kepada Shafiyah. Shafiyah bertutur, “Rasulullah saw. berhaji bersama-sama istri-istri beliau. Ketika tiba di salah satu jalan, untaku duduk dan aku adalah istri beliau yang paling letih. Aku menangis karenanya. Kemudian, Rasulullah datang dan mengusap air mataku dengan kain dan tangannya. Tangisanku bertambah keras, sedangkan Rasulullah melarangku menangis. Ketika aku terus-menerus menangis, Rasulullah menghardikku (agar aku diam)”.

Ketika Rasulullah sakit yang membawa kepada kematiannya, ummahatul mukminin berkumpul di sekeliling beliau. Kala demikian, Shafiyah berkata, “Demi Allah, aku sangat ingin merasakan apa yang engkau rasakan.”

Ummahatul mukminin yang lain saling memberi isyarat dengan mata mereka. Melihat demikian, Rasulullah langsung mengingatkan, “Berbasuhlah kalian!”

Mereka kaget lalu serempak berkata, “Dari apa, ya Rasulullah?”

“Dari isyarat mata kalian. Demi Allah, Shafiyah adalah wanita yang benar.”

Shafiyah wafat pada masa pemerintahan Muawiyah. Jenazahnya dimakamkan di Baqi beserta ummahatul mukminin lainnya.

 

DENGAN UMMU HABIBAH

Nama aslinya adalah Ramlah binti Abu Sufyan, anak seorang tokoh Quraisy musyrik yang amat memusuhi Nabi. Ia memiliki pemikiran yang cerdas dan keberanian yang tinggi. Meski harus berpisah dengan keluarganya, ia tegar membela Islam dan ikut dalam barisan muhajirin ke Habasyah beserta suami. Di pengasingan itulah ia membangun kehidupan rumah tangga bersama suaminya hingga dikaruniai anak yang diberi nama Habibah.

Musibah di pengasingan kian mengimpit ketika suaminya, Ubaidillah bin Jahsy al-Asad, anak paman Rasulullah murtad. Ia keluar dari Islam dan masuk agama Nasrani karena tidak tahan menderita. Ummu Habibah tegar menghadapi kondisi demikian.

“Wahai Ummu Habibah, aku melihat tidak ada agama lain yang lebih baik daripada agama Nasrani. Dulu aku pemeluk agama Nasrani, lalu aku memeluk Islam dan kini aku kembali  memeluk agama Nasrani,” paparnya suatu ketika kepada Ummu Habibah.

“Suamiku, apakah itu lebih baik bagimu?”

Barangkali ketentuan Allah harus berlaku demikian. Ubaidillah terus-menerus minum khamar menuruti nafsunya hingga ia overdosis dan meninggal dunia. Peristiwa itu menambah derita Ummu Habibah. Ia mengasingkan diri dari masyarakat. Ia merasa malu dengan kemurtadan suaminya. Sementara itu, ia juga tidak mungkin pulang kembali ke Mekah karena orang tuanya terang-terangan menentang Islam dan Nabinya. Tinggallah ia dalam duka berkepanjangan.

Apa yang dialami Ummu Habibah diketahui oleh Rasulullah. Beliau merasakan penderitaan yang dialami Ummu Habibah. Ia harus berpisah dengan kedua orang tuanya, jauh dari tanah kelahiran, hidup menjanda, memelihara anaknya, dan setumpuk masalah hidup yang mengimpitnya. Sifatnya sebagai pemimpin yang mempunyai tanggung jawab terhadap rakyat mendorong Nabi untuk mengulurkan tangan menolong Ummu Habibah.

Suatu hari, terdengar pintu rumah Ummu Habibah diketuk. Ia sendiri sebenarnya ada di dalam rumah. Ketika ia membukakan pintu, didapatinya seorang laki-laki tengah berdiri di depan pintu. Abrahah, nama pria di depannya. Ia seorang pencuci pakaian raja dan pemberi macam-macam wewangian kepada pakaiannya. Kini ia mendapat tugas khusus untuk menyampaikan kabar penting kepada calon Ummul Mukminin.

“Raja member tahukan kepadamu bahwa Rasulullah berkirim surat yang isinya agar raja menikahkanmu dengan beliau.”

Bukan main kagetnya Ummu Habibah mendengar berita yang tidak disangkanya sama sekali. Dunia yang sebelumnya terasa sempit dan gelap, kini tampak meluas dan bersinar. Wajahnya kembali dialiri darah baru yang menyeruak dari ekspresinya. Ia seperti terlahir kembali setelah sekian lama dirinya terkubur duka.

“Allah memberimu kabar gembira dengan membawa kebaikan,” jawabnya singkat.

“Tunjuklah seorang wali untuk menikahkanmu,” kata Abrahah.

“Aku menunjuk Khalid bin Said bin Ash sebagai waliku.”

Sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kepada Abrahah, Ummu Habibah menghadiahinya gelang perak, gelang kaki, dan cincin perak yang dikenakannya. Ummu Habibah menunggu waktu yang akan menghampirinya untuk disunting oleh kekasih seluruh alam. Masa penantian memang terasa lama bagi siapa saja yang menghitung-hitungnya.

Sementara itu, Raja menyuruh Ja’far bin Abi Thalib agar mengundang kaum muslimin untuk menghadiri akad nikah dan pesta walimah Ummu Habibah.

“Segala puji bagi Allah, Penguasa alam, Dzat Yang Mahasuci, Yang melimpahkan rasa aman, Mahaperkasa lagi dapat memaksa. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya dan yang diberitakan sebelumnya oleh Isa bin Maryam,” Raja Habasyah mengawali pidatonya. Kemudian, ia mulai menyampaikan maksudnya, “Rasulullah saw. memintaku untuk menikahkannya dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan. Aku telah menyanggupi permintannya. Aku memberi Ummu Habibah mahar sebesar 400 dinar.”

Raja Habasyah memperlihatkan dinar tersebut di hadapan hadirin. Semua yang hadir surprise dengan apa yang mereka saksikan. Tidak disangka, sahabat mereka di pengasingan yang sekian lama mereka ketahui pengorbanannya, kini dapat bernasib sebaik itu.

Kemudian, raja tampak berkata-kata kepada Khalid bin Said. Setelah itu Khalid berpidato, “Segala puji milik Allah, aku memujinya dan memohon ampunan kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang Dia utus dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk mengalahkan semua agama yang ada meski orang-orang musyrik tidak menyukainya.”

Khalid menarik nafas sejenak, lalu ia melanjutkan pidatonya, “Aku menyambut baik permintaan Rasulullah saw. Aku nikahkan beliau dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan. Semoga Allah memberkati Rasulullah saw.”

Setelah Khalid berpidato, acara dilanjutkan dengan serah terima mahar dari Raja Habasyah sebagai wakil Nabi senilai 400 dinar kepada Khalid bin Said sebagai wali dari Ummu Habibah.

Ketika hadirin memandang acara telah selesai, mereka berdiri hendak berpamitan, tetapi Sang Raja melarangnya,  “Duduklah sebentar. Sesungguhnya telah menjadi sunnah di kalangan para nabi. Jika mereka mengadakan pernikahan supaya menyantap hidangan pernikahan yang telah tersedia.”

Demikianlah prosesi pernikahan Nabi dan walimahnya berlangsung. Semua berjalan lancar dan khidmat penuh syukur. Derita Ummu Habibah berbuah nikmat yang tidak ternilai. Ummu Habibah sendiri dengan senang menerima mahar yang diberikan Raja Habasyah.

Kebahagiaan Ummu Habibah berlipat ketika Fathu Makkah. Dia bersyukur karena ayahnya, Abu Sufyan, masuk Islam dan langsung mendapat kehormatan dalam panggung sejarah Islam. Bahkan, kehormatan itu diikrarkan Nabi sebelum jelas-jelas bapaknya masuk Islam. “Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, ia aman.”

Ketika ajal dirasa kian mendekat, Ummu Habibah memanggil Aisyah agar menemuinya. “Apa yang terjadi di antara kita adalah terjadi pula pada madu-madu lainnya. Apakah kamu memaafkanku atas segala perbuatanku?” Aisyah mengiyakan dan memohonkan ampun untuknya.

Takdir Allah terjadi. Ummul Mukminin, Ummu Habibah, meninggal dan dimakamkan di Baqi, di samping ummahatul mukminin lainnya.

 

DENGAN MARIYAH QIBTHIYAH

Surat dakwah yang dilayangkan Nabi kepada Muqauqis mendapat sambutan hangat. “Masuklah ke dalam Islam. Jika engkau memasukinya, engkau akan mendapat pahala dua kali lipat.” Demikian isi pokok surat Nabi.

Meskipun demikian, Muqauqis tidak menjawab seruannya. Ia mencukupkan dengan menerima surat itu baik-baik dan menyambut utusan Muhammad dengan tangan terbuka. Hatib bin Balta’ah, utusan Rasul, yang membawa surat amat terkesan dengan keramahan Muqauqis meski hatinya kurang puas. Ketika hendak pulang, Muqauqis menitipkan surat balasan dan sejumlah hadiah serta dua pelayan wanita.

“Aku telah memuliakan utusanmu. Aku juga mengirimmu dua pelayan perempuan yang mempunyai posisi mulia dalam suku Qibthi dan hadiah-hadiah  kain serta binatang untuk tunggangan. Semoga keselamatan menyertaimu.”

Rasulullah menerima semua hadiah itu termasuk dua wanita yang diberikan Muqauqis. Mereka adalah Mariyah dan Sirin. Nabi kagum dengan Mariyah sehingga mengambilnya untuk dirinya. Sementara Sirin, saudara Mariyah, dihadiahkan kepada Hasan bin Tsabit.

Mariyah lahir di sebuah desa bernama Hafn. Hafn terletak di dekat Ansana, sebuah dataran tinggi di Mesir. Ayahnya bernama Syam’un berasal dari suku Qibthi, sedangkan ibunya adalah penganut agama masehi, Romawi. Ketika menginjak remaja, Mariyah pindah bersama saudara perempuannya, Sirin, ke istana Muqauqis untuk bekerja.

Rasulullah menitipkan Mariyah di rumah Haritsah bin Nu’man. Nabi tidak memerdekakan Mariyah sehingga kedudukannya tetap sebagai jariyah, hamba sahaya perempuan. Meski demikian, beliau sering berlama-lama bersama Mariyah hingga mengundang kecemburuan Aisyah. Rasulullah memang amat menyayangi dan mengasihinya. Dengan kasih sayangnya, Mariyah akhirnya hamil.

Mariyah sendiri sering berpikir tentang putri Mesir terdahulu, Sayyidah Hajar, yang datang ke negeri itu pada zaman dahulu sebelum dirinya. Kemudian, putri itu menikah dengan Nabi Ibrahim dan melahirkan anak, Nabi Ismail. Ketika kehamilan menghampirinya, ia berharap Allah akan menjadikannya sebagai ibu dari anak Muhammad, seperti Hajar sebagai ibu dari anak Ibrahim.

Menjelang melahirkan, Nabi memanggil keluarga Mariyah dan menempatkan Mariyah di tempat yang tinggi dan agak jauh dari kota agar Mariyah dapat beristirahat. Kini bayi itu telah lahir dan disambut dengan senyum semua pihak. Tidak hanya Mariyah dan keluarganya yang berbahagia dengan kelahiran sang bayi, Nabi pun sangat berbahagia. Rasulullah membawa bayi itu dengan kedua tangannya dan memberinya nama Ibrahim seperti nama kakek para nabi. Adapun Mariyah merasa telah tercapai tujuannya, yaitu melahirkan putra Muhammad saw.

Allah berkehendak lain. Sebelum genap berusia dua tahun, Ibrahim sakit keras. Kondisi fisiknya mengkhawatirkan hingga mengiris hati Mariyah. Akhirnya, Ibrahim tidak kuat menahan sakit dan ia meninggal. Dalam keadaan sedih Nabi berujar, “Wahai Ibrahim! Sungguh, kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah. Wahai Ibrahim! Seandainya ini bukan perkara yang haq, janji yang benar, dan masa akhir kita yang menyusul masa awal, niscaya kami akan bersedih atas kematianmu lebih dari ini. Kami berduka, mata kami mengucurkan air mata, hati kami teriris duka, tetapi kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan Allah murka.”

Rasulullah berbalik ke arah Mariyah. Dengan pandangan penuh kasih sayang, Nabi menasihatinya agar tetap tabah dan tidak larut dalam duka karena ia masih tetap dicinta suaminya.

Pada hari yang sama, orang-orang bersedih, awan mendung, dan matahari memerah. Saat itu terjadi gerhana. Orang-orang mengatakan bahwa matahari dan bulan turut berduka atas meninggalnya Ibrahim, putra Rasulullah. Mendengar perkataan mungkar demikian, bahkan menjurus syirik, Nabi bangkit dan bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah satu tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat keduanya gerhana, bersegeralah melakukan shalat.”

. Sebelum Rasulullah saw. Wafat, beliau pernah berpesan, “Mintalah nasihat kebaikan kepada suku Qibthi karena mereka memiliki perlindungan dan kasih sayang.”

Mariyah hidup lima tahun setelah ditinggal suaminya. Ia hampir-hampir tidak pernah keluar rumah, kecuali kepada makam suami dan anaknya. Mariyah wafat pada tahun 16 H dan dimakamkan di Baqi.

Demikianlah kisah lengkap dari kisah cinta Nabi Muhammad bersama istri-istrinya. Semoga ada yang bsia kita ambil pelajaran.

 


*Sumber artikel ini adalah dari buku Kisah Cinta Manusia Pilihan: Para Nabi, Sahabat, Tabi’in, dan Orang-Orang Shalih Zaman Ini karya Irfan Supandi.

Summary

Leave a Reply