kisah nabi ya'qub dan rahil

Kisah Cinta Nabi Ya’qub dengan Mahar Mengurusi Ternak 14 Tahun

Ya’qub adalah putra Ishaq putra Ibrahim. Usianya yang mulai menginjak remaja telah mendorong Ishaq untuk menjodohkan anaknya yang shalih itu dengan gadis anak pamannya sendiri—saudara ibunya—Laban bin Batu’il. Jarak antara tempat kediaman Ya’qub dan pamannya cukup jauh dan melelahkan. Dengan restu orang tua, ia mengarungi padang pasir dengan penuh optimistis. Di tengah perjalanan, sesekali ia berhenti untuk istirahat, lalu melanjutkannya kembali dengan penuh semangat.

Suatu saat, Ya’qub sangat keletihan. Ia harus beristirahat karena kedua kakinya telah berat untuk melangkah. Ia duduk dan tertidur di bawah batu karang yang besar. Angin bertiup perlahan, Ya’qub terbang jauh ke alam mimpi yang menakjubkan. Ia menjadi manusia beruntung karena dikaruniai rezeki yang besar,  istri yang shalihah dengan keturunan yang baik-baik. Ketenangan dan kesejahteraan keluarganya benar-benar jauh dari sekadar yang biasa ia lihat.

Dalam mimpi itu ia serasa berada di surga. Segala kebutuhan tercukupi. Ketaatan kepada Allah menjadi milik keluarga dan bidadari cantik setia mendampinginya.

Tiba-tiba ia terbangun. Matanya menatap ke kanan dan ke kiri. Tidak ada apa-apa. Ia hanyalah seorang diri yang sedang beristirahat di balik batu karang. Namun, ia merasakan satu kekuatan telah menusuk ke dalam jiwanya. Tembus sampai ke lubuk hati yang paling dalam. Ia mendapatkan energi baru untuk mengayunkan langkah mengejar merpati suci. Ya’qub bangkit.

Betapa pun jauhnya Fadan A’ram, tempat pamannya berada, jika kaki terus dilangkahkan, sampailah ia di pintu gerbang kota. Langit luas, Sahara membara, dan padang pasir seujung mata tak lagi tampak. Keramaian orang-orang mulai terlihat dari kejauhan. Hilanglah rasa penat dan letih yang sebelumnya mengekang fisik dan psikis Ya’qub. Bau peluh yang mengucur berganti aroma ceria senang telah tiba di tempat tujuan. Ia bersyukur.

Saat berpapasan dengan seseorang, Ya’qub menanyakan alamat saudara ibunya, Laban. Di kota itu, nama Laban bin Batu’il terkenal sebagai juragan, peternak sukses yang memiliki banyak hewan ternak. Setiap penduduk setempat mengenalnya sebagai orang kaya yang baik dan tidak sombong. Ia juga gemar berderma dan menolong orang-orang yang membutuhkan. Orang itu menunjukkan kepada seorang gadis cantik yang sedang menggembala kambing, Rahil. Ia adalah salah seorang anak dari Laban.

Dari kejauhan Ya’qub menatap Rahil. Ada perasaan aneh yang ia rasakan. Sebagai pemuda tanggung dan pemberani, ia belum pernah merasakan degup jantungnya yang tiba-tiba mengencang. Ya’qub terpesona dengan pandangan pertama.

Dengan hati berdebar, Ya’qub menghampiri Rahil. Setelah membaca salam, Ya’qub mengenalkan diri dan menerangkan maksud kedatangannya ke kota itu. Berkah Allah menimpa Ya’qub. Dengan wajah ramah, Rahil menyimak cerita yang disampaikannya. Ia pun mengerti. Tanpa berlama-lama, Ya’qub dipersilakan mengikutinya untuk diantarkan kepada ayahnya.

Keduanya berjalan menuju rumah Laban. Jaraknya tidak begitu jauh. Dengan berjalan biasa, rumah itu pun sudah tampak di pelupuk mata. Setibanya di rumah, Rahil mempersilakan Ya’qub menemui ayahnya.. Keakraban dan rasa haru segera menyeruak dari dua saudara jauh yang lama tidak berjumpa. Keduanya berpelukan bahagia bias bertemu. Ya’qub disediakan kamar khusus dan diperlakukan sebagai anggota keluarga sendiri.

Selang beberapa waktu, Ya’qub mengemukakan pesan ayahnya agar pamannya menikahkan dirinya dengan salah seorang dari putri beliau. Laban menyambutnya dengan antusias. Mahar yang disepakati adalah Ya’qub bekerja mengurusi ternak Laban selama tujuh tahun. Profesi yang sudah mafhum dikerjakan masa itu.

Mulailah Ya’qub mencicil mahar. Setiap hari ia mengurusi ternak di kandang dan menggembalakannya di alam terbuka. Pemuda shalih ini menjalani hari-harinya dengan sepenuh hati. Ia menikmati pekerjaan itu. TIdak pernah terdengar riwayat yang menceritakan bahwa ia berkeluh kesah selama menunaikan maharnya. Ia sabar dan ulet, tujuh tahun dijalaninya.

Setelah tamat memenuhi waktu yang disepakati, Ya’qub menagih janji pamannya. Laban pun segera menyambut tagihan itu. Ia memberikan Laila sebagai calon istri kemenakannya itu. Tentu saja Ya’qub menolak. Ia lebih memilih Rahil karena lebih cantik dari kakaknya, Laila. Laban memahami perasaaan kemenakannya. Namun, adat kala itu mengatakan bahwa seorang kakak perempuan tidak boleh dilangkahi pernikahannya oleh adik perempuannya. Akhirnya, dengan berat hati, Ya’qub menikahi Laila.

Untuk mengobati kekecewaan kemenakannya, Laban menjanjikan akan menikahkan Ya’qub dengan Rahil dengan mahar yang sama. Ya’qub diminta mengurusi ternak-ternaknya selama periode tujuh tahun kedua. Karena cinta telah terukir di hatinya,Ya’qub menyanggupi syarat itu. Ia bersabar untuk kedua kalinya mengurusi ternak mertuanya.

Hingga pada saatnya, Ya’qub menikahi Rahil. Jadilah ia beristrikan dua putri Laban. Laila yang kakaknya dan Rahil sebagai adiknya. Pada waktu itu, syariat membolehkan mengumpulkan dua saudara kandung dinikahi oleh seorang laki-laki. Ya’qub bahagia dapat menikahi gadis pujaannya, gadis pertama kali yang ia jumpai saat memasuki Kota Fadan A’ram.

Dari pernikahannya dengan Laila, Ya’qub dikaruniai sepuluh orang anak. Dan dari Rahil dikaruniai dua anak yaitu Yusuf dan Bunyamin.

 

 


*Sumber artikel ini adalah dari buku Kisah Cinta Manusia Pilihan: Para Nabi, Sahabat, Tabi’in, dan Orang-Orang Shalih Zaman Ini karya Irfan Supandi.

Leave a Reply