kisah cinta zulaikha

Kisah Cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha

Jelas ini bukan kisah cinta biasa. Lebih tepatnya lagi jika disebut sebagai manuver Yusuf dalam menghindari cinta yang tidak halal. Kisah cinta ini disebut juga cinta bertepuk sebelah tangan jkarena hanya si wanita yang jatuh hati kepada Yusuf, sedangkan Yusuf berpaling darinya karena hidayah. Kisahnya terekam secara utuh dalam Surah Yusuf mulai ayat 23   hingga ayat 35, lalu diteruskan oleh ayat 50 hingga 53.

Jika saja Yusuf hidup di akhir zaman, ia akan memperoleh janji seperti yang disabdakan Nabi saw. Ini.

“Tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan Allah di hari tidak ada perlindungan kecuali dari-Nya: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh sembari taat kepada Allah Azza Wa Jalla, orang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencinta karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh wanita cantik dan berkedudukan, lalu ia menolak sambil berkata ‘Aku takut kepada Allah’, orang yang berinfaq secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kiri tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kananannya dan orang yang mengingat Allah di tempat sunyi lalu kedua matanya berlinang.” (Muttafaq ‘alaih).

Alkisah, Zulaikha, istri seorang petinggi kepolisian Mesir, memperlakukan Yusuf kecil tidak seperti terhadap budak belian. Ia dianggap sebagai salah seorang anggota keluarga, seperti yang dipesankan suaminya. Yusuf juga merasa tenteram dan tenang berada di tengah-tengah mereka. Ketika mulai menginjak dewasa, kepribadian Yusuf sebagai seorang calon nabi mulai bersinar. Ia menampakkan akhlak yang makin hari makin terpuji. Kecekatannya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya mengalahkan para pekerja biasa yang hanya mengandalkan pengawasan majikan. Ketampanannya makin lekat pada dirinya, mengalahkan semua pria di lingkungan itu.

Pergaulan dan pertemuan setiap hari dalam satu atap rumah antara pemuda asing dan nyonya rumah telah mengundang perasaan lain di antara insan dua jenis yang berbeda itu. Zulaikha makin tertarik hati oleh keperkasaan Yusuf dan ketampanannya. Mulanya sekadar simpati, simpati, dan yaa … simpati. Namun, seiring dengan perjalanan waktu rasa itu berubah menjadi cinta. Cinta yang membutakan mata hati dari hukum dan etika.

Makin hari rasa cinta itu makin besar. Gerak-gerik Yusuf diperhatikannya dari jauh dengan percikan bunga api cinta. Gengsi sebagai istri pembesar Mesir, istri pejabat tinggi kerajaan, tidak mampu menghalangi nafsu berahinya yang makin membuncah. Akal sehat tidak lagi berperan. Aturan ilmiah tidak lagi berguna. Hanya satu yang ia inginkan, bagaimana dapat melampiaskan rasa cintanya itu?

Zulaikha mulai memasang perangkap. Jika ia sedang berduaan di rumah dan suaminya telah berangkat ke kantor, ia mengenakan busana yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Aroma parfum yang lembut ia taburkan ke seluruh tubuh dan pakaiannya. Ia pun lewat atau bertutur sapa dengan Yusuf melebihi biasanya.

Berkali-kali Zulaikha bertindak demikian. Namun, harapan tergodanya Yusuf kiranya tidak menampakkan hasil. Sikap dingin Yusuf menghadapi dirinya makin membuatnya penasaran. Ia mulai memutar otak. Keningnya mengernyit tanda sedang berpikir. Sebab, setelah taktik biasa ia lakukan tidak membawa hasil, berarti ia akan menggunakan cara lain. Setelah berdandan dan aroma parfum tidak mampu membangkitkan gairah kelelakian Yusuf, Zulaikha harus menggunakan jurus yang mampu menundukkan Yusuf, begitu pikirnya.

Bagi Yusuf sendiri,  perlakuan manis Zulaikha atau Nyonya Futhifar adalah hal biasa yang memang diamanahkan suaminya agar senantiasa memperlakukan Yusuf secara wajar, tidak seperti terhadap budak. Meski majikan putrinya sering mendekati dirinya, beliau menanggapinya secara wajar. Justru sikap itulah yang membuat Zulaikha makin panas hati dan bertekad melakukan berbagai cara hingga maksudnya tercapai.

Hingga suatu hari, saat sang suami sudah berangkat kerja, rumah kembali sepi. Setan tertawa lebar. Saatnya mereka beraksi untuk memperdayai dua insan beda jenis agar melakukan pembangkannya kepada Allah SWT. Zulaikha masuk kamar tidurnya. Pakaian norak dan aroma parfum pembangkit berahi sudah dikenakannya. Ia memanggil Yusuf agar mengikutinya. Yusuf mengira tuannya akan menyuruhnya membenahi interior rumah atau beres-beres sebagaimana pekerjaan yang biasa ia lakukan. Ia tidak menduga jika ada maksud lain dari tuan putrinya.

Begitu Yusuf masuk, Zulaikha mengunci pintu. Ia menutup gorden, lalu berbaring di tempat tidur. “Kemari hai Yusuf, ini aku sudah siap bagimu.”

Yusuf terperanjat kaget. Barulah ia sadar apa yang sedang dan akan terjadi pada dirinya. Sambil memalingkan muka ke arah lain, Yusuf berujar, “Aku berlindung kepada Allah. Tidak mungkin aku mengkhianati tuan yang sudah banyak berbuat baik kepadaku. Berdosa sekali jika aku melakukan apa yang dimaui tuan putri.”

Zulaikha marah. Matanya melotot tanda cinta sudah berbaur dengan emosi. Ia merasa dirinya terhina oleh penolakan budaknya. Padahal, dari sisi fisik dan keelokan wajahnya, ia termasuk istri pejabat yang banyak memikat lelaki. Namun, Zulaikha tidak menghiraukan mereka. Kali ini, ia sendiri serasa dijatuhkan martabatnya oleh Yusuf yang menolak keinginannya untuk memenuhi nafsunya.

Melihat perubahan pada ekspresi wajah Zulaikha, Yusuf tambah ketakutan. Ia mengkhawatirkan tuannya akan berbuat nekad. Yusuf segera berlari menuju pintu yang terkunci. Zulaikha cepat-cepat bangun dari ranjangnya mengejar Yusuf. Ditariknya keras-keras kemeja Yusuf hingga koyak bagian belakangnya. Saat terjadi demikian, Futhifar ( keterangan lain menyebut Qithfir ), sang kepala kepolisian Mesir, suami Zulaikha datang memergoki peristiwa yang mengejutkannya.

“Nih dia si Yusuf, budak yang kita pelihara hendak memerkosaku. Penjara saja  dia atau siksa saja,” sumpah Zulaikha tanpa memberi kesempatan Yusuf berbicara lebih dahulu.

Tambah kencang degup jantung Yusuf mendengar suara bak petir di kedua telinganya. Namun, ia segera menguasai dirinya. “Dialah yang menggodaku dan membujukku untuk melakukan hubungan suami istri.” Yusuf berani berkata tegas.

Futhifar bingung. Belum lagi rasa penatnya hilang, ia dihadapkan pada masalah yang sangat sensitif bagi seorang suami. Satu sisi ia amat mencintai istrinya yang cantik jelita, kekasih hatinya. Sisi lain, ia tidak pernah melihat Yusuf berdusta apalagi mengkhianati dirinya. Ia tahu, Yusuf adalah pemuda yang jujur, cerdas, dan taat kepada tuannya. Otaknya berputar.

Di tengah kebingungan demikian, datanglah kemenakan Zulaikha yang dikenal bijaksana, pandai, dan biasa memberikan gagasan-gagasan konstruktif tentang berbagai masalah. Ia juga sering memberikan pertimbangan-pertimbangan tentang masalah penting sekaligus menjadi problem solver. “Lihatlah kemeja Yusuf!” kata kemenakan Zulaikha ketika dimintai pertimbangannya oleh Futhifar, “Jika kemejanya terkoyak bagian depannya, istrimu yang benar dan ialah yang dusta. Namun, jika yang terkoyak bagian belakang, istrimu yang dusta dan Yusuf yang benar.”

Sejurus kemudian, pandangan mata Futhifar melihat kemeja Yusuf. Tampak olehnya bagian belakangnya robek. Kini persoalannya menjadi jelas; siapa yang salah dan siapa yang benar. Segera sifat kepemimpinan Futhifar menyembul. “Mintalah ampun kepada Allah, hai Zulaikha, atas dosa-dosamu! Sungguh, kamu telah berbuat dosa besar.”

Lalu, ia palingkan mukanya ke arah Yusuf, “Wahai Yusuf, jagalah kerahasiaan kasus ini. Jangan sampai terdengar oleh masyarakat luas hingga menjatuhkan harga diri keluarga!”

Waktu terus berlalu meninggalkan peristiwa itu. Namun, seperti kata pepatah, “Tiap rahasia yang diketahui oleh lebih dari dua orang, pasti tersiar dan diketahui oleh banyak” atau kata orang Melayu, “Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akhirnya tercium jua”. Rupanya itulah yang menimpa keluarga Futhifar, Zulaikha, dan Yusuf. Tidak tahu angin mana yang membisikan kaum wanita di kota itu, tiba-tiba kisah Zulaikha, istri pejabat yang membujuk budaknya untuk berbuat mesum telah menjadi buah bibir setiap pertemuan mereka. Mulanya sekadar ngobrol iseng dari seseorang kepada yang lainnya. Namun, tidak lama berselang, kisah itu menjadi bahan perbincangan serius di setiap pertemuan ibu-ibu. Mereka mengecam sekaligus mengejek Zulaikha yang “dungu”, yang teperdaya oleh Yusuf, budaknya sendiri.

Kecaman-kecaman dan suara-suara yang bernada ejekan itu akhirnya sampai ke telinga Zulaikha. Hatinya panas mendengar dirinya jadi bahan olok-olokan teman-teman wanitanya. Telinganya langsung tegak jika matanya melihat kaum wanita bercakap-cakap dan lisannya serasa setajam pedang untuk membalas olok-olokan mereka. Namun, ia tak kuasa. Ia hanya menahan gemerutunya gigi, menahan marah.

Zulaikha mulai berpikir membalas ejekan istri-istri pejabat itu. Otaknya berputar. Keningnya sering mengernyit. Sementara matanya sesekali terpejam dan sesekali tampak sayup. Ia berpikir keras. Akhirnya, ia menemukan gagasan cemerlang. Ia pun memutuskan untuk mengundang istri para pejabat dalam suatu jamuan makan di rumahnya untuk kemudian membuat kejutan spesial.

Waktu yang ditentukan tiba. Saat semua undangan telah hadir, Zulaikha mulai melancarkan skenarionya. Dalam jamuan khusus wanita tersebut, semua undangan diberi hidangan daging dan buah-buahan. Masing-masing mereka diberi sebilah pisau untuk keperluan mengupas buah dan memotong hidangan lainnya. Setelah semua tamu duduk di tempat yang nyaman dan tengah menikmati hidangan; ketika semuanya sedang mengupas buah, Zulaikha memerintahkan Yusuf untuk keluar kepada mereka layaknya peragawan.

Tanpa disadari semua undangan mengupas tangan mereka  dengan pisau yang sejak tadi dipegangnya. Dapat dibayangkan, pisau tajam yang seharusnya digunakan untuk mengupas buah dan daging, kini mengupas kulit tangan-tangan mereka. Mengucurlah darah dari masing-masing luka sayatan pisau, tetapi mereka belum menyadarinya. Justru mereka makin terpesona dengan ketampanan Yusuf, suatu kenyataan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. “Subhanallah, ini bukan manusia biasa. Ini malaikat yang mulia,” gumam mereka dengan mata menatap tak berkedip.

Zulaikha bertepuk kegirangan melihat upayanya tidak sia-sia. Ketika mereka bengong, tangan kanannya masih mengiris tangan kirinya dengan pisau, Zulaikha berseru, “Inilah dia Yusuf yang karenanya aku telah diejek dan dicemooh kalian. Sekarang kalian telah melihat sendiri orang yang menyebabkan aku tergoda olehnya. Dia sangat tampan dan rupawan. Setelah ini, tentu kalian akan memaklumi aku dan menghentikan cemoohan yang telah menjadi kunyahan bibir kalian.”

Sebenarnya Yusuf tidak nyaman diperlakukan layaknya peragawan. Namun, sebagai budak, ia tidak dapat menolak perintah tuannya selama tidak bertentangan dengan perintah Allah. Setelah peristiwa itu berlalu, tema perbincangan wanita-wanita pejabat tetap saja tidak berhenti. Kini mereka menyayangkan orang sebaik Yusuf, perangai ataupun akhlaknya, harus bernasib seperti sekarang. Mereka tetap tidak berpaling dari mencemooh keluarga Futhifar, terutama istrinya, Zulaikha.

Sementara itu, Yusuf merenung bersedih. Ia makin tidak nyaman tinggal bersama majikannya. “Ya Rabb, aku lebih suka berada di penjara daripada berada di luar menjadi bahan pergunjingan orang banyak, memperturutkan hawa nafsu para wanita itu. Jika tidak engkau hindarkan tipu daya mereka padaku, tentu aku akan cenderung memenuhi keinginan mereka. Tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”

Di sinilah berpadu antara keinginan Yusuf untuk dipenjara daripada hidup di tengah-tengah manusia penuh dosa, dengan keinginan keluarga Futhifar untuk memenjarakannya agar tampak oleh khalayak bahwa Yusuflah yang bersalah sehingga ia pantas di penjara. Harapan mereka, nama baik keluarga tetap terjaga.

Akhirnya, Allah mengijabahi doa Yusuf. Ia masuk penjara. Ia dapat merenung dan berpikir jernih tentang kehidupan yang kelak akan sangat bermanfaat setelah beliau keluar dari penjara fisik. Yusuf merasa tenang. Hatinya diliputi ketenteraman dan rasa aman.

 

 


*Sumber artikel ini adalah dari buku Kisah Cinta Manusia Pilihan: Para Nabi, Sahabat, Tabi’in, dan Orang-Orang Shalih Zaman Ini karya Irfan Supandi.

Leave a Reply