Panduan Seks Islami
April 29, 2008
Resensi ini dimuat di majalah HIDAYAH, edisi 79/Feb 2008
Pandangan Islam tentang Seks
Oleh: n. mursidi
————————–
Judul buku : Panduan Seks Islami
Penulis : Dr Hasan Hathout dkk
Penerbit : Zahra Pustaka, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2007
Tebal buku : 328 halaman
————————–
Orang berbeda pendapat dalam memandang seks. Sebagian
orang, melihat seks sebagai pelampiasan nafsu demi
mencapai kenikmatan dan kesenangan semata. Sedang
sebagian orang yang lain, menganggap seks sebagai hal
yang menjijikkan, kotor, tabu dan bahkan dosa. Karena
itulah, seks harus dijauhi dan tak patut untuk
dibicarakan.
Padahal seks itu -pada hakekatnya– adalah hal alamiah
yang dianugrahkan Allah pada setiap umat manusia sejak
ia lahir demi kelangsungan hidupnya. Maka, mau tidak
mau, seks harus diakui sebagai bagian inherent manusia
yang tidak bisa dinafikan dan dimungkri keberadaannya.
Lantas, bagaimanakah Islam (sesuai aturan yang telah
ditetapkan al-Qur`an dan hadits) melihat persoalan
seks?
Islam ternyata memandang seks dengan pandangan lain.
Tidak seperti beberapa agama lain (seperti Kristen dan
Budha) atau aliran filsafat tertentu, Islam –tulis
Majida Tufail dalam buku Panduan Seks Islami ini–
tidak memandang seks sebagai syahwat daging yang penuh
dosa dan karena itu jiwa harus menundukkannya. Islam
menganggap seks sebagai suatu hal yang suci, fitrah
dari setiap manusia dan bahkan sebagai sarana
mendekatkan diri kepada Allah. Karena, jika “seks”
dipraktekkan dalam kerangka yang sesuai dengan
syaraiat Islam, tentu sepasang suami-istri bukan
semata-mata untuk mendapatkan kesenangan dan kepuasan
seksual melainkan juga mendapat pahala dari Allah.
Kenapa? Karena seks dalam ikatan pernikahan dipandang
Islam sebagai wujud sedekah dan juga ibadah. Seperti
diungkapkan oleh Rasulullah, bahwa “dalam hubungan
yang dilakukan oleh pasangan yang sah, ada sedekah”.
Bahkan dalam satu hadits lain, Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa ingin melihat Allah dalam kesucian,
hendaklah dia menemui-Nya dengan istrinya. Tetapi jika
seks itu dipraktekkan di luar ikatan pernikahan, Islam
(QS. al-Isra` [17]: 32) jelas-jelas akan mengutuk
karena hal itu termasuk perbuatan zina yang dilarang
ajaran Islam.
Meski Islam menganggap seks sebagai hal yang suci,
tetapi ada adab dan aturan yang tak bisa dilanggar.
Islam menganjurkan pasangan tidak sampai mempraktekkan
seks a la binatang, melainkan seks yang me”manusia”kan
setiap pasangan. Karena itu, nabi bersabda “Janganlah
di antara kalian mendatangi istrinya seperti binatang.
Adalah lebih patut baginya untuk mengirimkan pesan
sebelum melakukannya.” (HR Dailami).
Jadi Islam menganjurkan seks dalam koridor untuk
“memanusiakan”, bukan seks yang merendahkan derajat
manusia. Karena itulah, Islam melarang suami
mendatangi istrinya yang sedang menstruasi.
Buku ini boleh dikata cukup lengkap mengupas persoalan
seputar seks dilihat dari sudut pandang ajaran Islam
sesuai dengan al-Qur`an dan hadits. Tak salah jika
buku ini juga mengupas adab bersetubuh, hukum
masturbasi, hukum oral seks, hukum anal seks,
persoalan aborsi, inces, masalah kontrasepsi, dan
bahkan tentang poligami.
Karena itulah, buku ini patut untuk dimiliki dan
dibaca setiap pasangan suami-istri, bukan sekadar
untuk menikmati “keindahan hidup” dalam ikatan sakral
pernikahan, melainkan juga agar suami-istri tidak
terjerumus hal-hal yang dilarang syariat Islam dan
dapat merengkuh kenikmatan seks dalam rangka sedekah
dan ibadah. (n mursidi)


