Ruqyah Syar’i Berlandaskan Kearifan Lokal
June 26, 2008
B. PERUMUSAN MASALAH DAN PERTANYAAN PENELITIAN
1. Tidak semua teori dan teknik psikoterapi Barat tepat untuk diterapkan di Indonesia, dibutuhkan psikoterapi yang indigenous yang mengedepankan kearifan lokal, khas dan berakar budaya Indonesia yang mayoritas beragama islam.
2. Terapi Ruqyah sebagai metode alternatif yang sangat diminati masyarakat Indonesia khususnya Jawa perlu diteliti secara ilmiah sebagai upaya perlindungan masyarakat.
Pertanyaannya adalah: apakah metode terapi Ruqyah yang berbasis reliji dan budaya islam dapat diterima secara ilmiah? apakah metode itu dapat dijadikan sebagai satu model psikoterapi klinis khas Indonesia ? bagaimanakah cara pelaksanaan terapi Ruqyah yang tepat, benar serta aman ?
C. MAKSUD, TUJUAN, MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini bermaksud mengevaluasi dan mengkritisi terapi Ruqyah di masyarakat, membangun model Ruqyah sebagai Psikoterapi Islami dengan melakukan indiginezation berdasarkan nilai-nilai Islam. Tujuannya adalah menemukan metode Ruqyah yang tepat, benar dan aman serta mengetahui ada tidaknya peningkatan atau promosi kesehatan psikofisik-sosiorelijius pasien yang mendapatkan perawatan Ruqyah. Manfaat yang diharapkan hasil penelitian ini memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan Psikologi Klinis, Psikologi Indegenous dan Islami baik teori maupun praktek. Selain itu bermanfaat membantu masyarakat mendapatkan informasi model terapi Ruqyah yang tepat, benar dan aman untuk menyelesaikan masalah kesehatannya sesuai kepercayaan dan budayanya.
D. TINJAUAN PUSTAKA
1. Gangguan Jiwa
Gangguan jiwa akan terjadi ketika individu gagal dalam menyelaraskan antara yang diinginkan dan yang didapatkan, antara potensi diri dan keinginan untuk meraih berbagai cita, ada disharmoni antara yang dipikirkan, yang dirasakan dan yang dilakukan individu. Kesemuanya itu dilandasi oleh relijiusitas yang tidak atau kurang bermakna, individu kurang mengenali dirinya sendiri, mulai dari hakikat asal-usul, potensi fitrahnya (sisi positif-negatif), dan tujuan hidupnya sehingga kurang adaptif secara horisontal maupun vertikal dan memiliki kebiasaan negatif, penuh konflik interpersonal maupun intrapersonal, konflik intrinsik maupun ekstrinsik, serta memiliki koping yang kurang efektif. Penelitian Anggraini (2004) membuktikan konflik antara motivasi intrinsik (hubungan vertikal) dengan motivasi ekstrinsik (hubungan horisontal) di dalam beribadah juga merupakan sumber stres.
Menurut Bahar (1995) ketika peristiwa terjadi bersamaan atau berurutan dan berakumulasi maka stres mencapai derajat patologik yang disebut dysfunctional stress atau stress dapat menimbulkan berbagai penyakit (stress related diseases). Hipotalamus mengeluarkan hormon yang disebut ACTH (adrenocorticothropin) yang kemudian mengikatkan diri dengan sel-sel dibagian luar korteks kelenjar adrenalin dan menyebabkan sel-sel ini memproduksi dan mengeluarkan kortisol (cortisol). Dalam jangka pendek kortisol merupakan hormon untuk memperbaiki, tapi dalam jangka panjang ia merupakan penghambat kekebalan tubuh (immunosuppressant). Kortisol yang berlebihan biasa dipakai sebagai indikator terjadinya stres (Davison dan Neale, 2001; Borysenko, 2002) dan menyebabkan penyakit maag, luka duodenum, sakit kepala, hipertensi, gangguan rematik dan gangguan alergi.
Mubarok (2000) menjelaskan penyakit gabungan fisik dan mental, yang dalam bahasa Arab disebut Nafs jasadiyah atau Nafs biolojiyah, yang sakit sebenarnya jiwanya, tetapi menjelma menjadi sakit fisik. Penderita biasanya selalu mengeluh merasa tidak enak badan, jantungnya berdebar-debar, merasa lemah dan tidak bisa berkonsentrasi. Wujudnya bisa dalam bentuk sindrom, trauma, stres, ketergantungan kepada obat penenang, alkohol, narkotik atau berperilaku menyimpang, gagal dalam mengendalikan, menstabilkan dan mengekspresikan emosi secara adekuat (relevan) serta mudah mengalami tegangan atau tekanan.
Kaitannya dengan nilai-nilai Islam khususnya dan budaya di Jawa, gangguan jiwa selalu terkait dengan relijiusitas individu, perilaku mistik-syirik, hubungannya dengan makhluk gaib, dan kelemahan atau buruknya akhlak (Akhmad, 2005). Gusmian (2005) menyebut penyakit hati (dengki, dendam, iri, sombong, kecil hati, ragu dan was-was, serta mudah marah), dusta, rakus dan kebiasaan-kebiasaan buruk atau jahat, yang semakin tinggi tingkatannya akan secara timbal balik mengundang anasir setaniah yang akan manifestasi dalam jasmani dan perilakunya. Makhluk gaib akan mengganggu manusia ketika ada permusuhan dan kezaliman.
Keterangan-keterangan di atas menegaskan gangguan-jiwa berawal dari individu yang gagal mengadaptasi situasi-kondisi penuh stres, memiliki hubungan vertikal (relijius) yang buruk, konflik intrapsikis, problem hubungan interpersonal,serta masalah lingkungan-sosial, yang seterusnya memunculkan berbagai sindrom.


