Ruqyah Syar’i Berlandaskan Kearifan Lokal

June 26, 2008

2. Psikoterapi dan Agama

Psikoterapi adalah perawatan dengan menggunakan alat-alat psikologis terhadap permasalahan yang berasal dari kehidupan emosional dimana seorang ahli secara sengaja menciptakan hubungan professional dengan pasien, yang bertujuan: (1) menghilangkan, mengubah atau menemukan gejala-gejala yang ada, (2) memperantarai (perbaikan pola tingkahlaku yang rusak, dan (3) meningkatkan pertumbuhan serta perkembangan kepribadian yang positif.

Banyak ahli di jaman ini yang justru mempromosikan pentingnya spiritualitas dan tidak mungkinnya agama dipisahkan dari permasalahan-permasalahan kehidupan manusia. Rihadini (2001) menyimpulkan bahwa kesehatan jiwa ditopang oleh 4 hal, yaitu organo - biologi, psikologik, sosial (budaya) dan agama. Terapi yang dilakukan dengan paradigma dan metode holistik adalah terapi yang tidak hanya ditujukan kepada bentuk gangguan jiwa individu saja melainkan juga mencakup aspek-aspek lain dari klien, sehingga klien diterapi secara menyeluruh tidak hanya dari segi psikologik, psikososial, tetapi juga segi organobiologik, maupun spiritual. Tujuan terapi holistik tidak hanya menghilangkan keluhan-keluhan klien saja, namun lebih luas dari pada itu, pendekatannya meliputi kausatif, preventif, kuratif maupun promotif pada semua aspek individu sehingga individu akan berkembang sesuai potensi fitrahnya dan mampu kembali menjalankan fungsinya dalam kehidupan dengan lebih bermakna.

Ornish (dalam Hick, 2001), juga menerangkan bahwa program penyembuhan jiwa meliputi proses personal, interpersonal dan transpersonal. Pada tahap personal harus menyembuhkan luka-luka batin pada masa lalu, pada tahap interpersonal yaitu menjalin keintiman sejati dengan orang lain dan pada tahap transpersonal yaitu menghubungkan diri dengan “Misteri Besar” (Tuhan) secara lebih bermakna. Dalam hal ini agama menjadi sangat penting perannya dalam kesehatan jiwa, tidak sekedar kepercayaan dan perilaku ritualistik.

3. Fitrah manusia dan Psikoterapi dalam Islam

Manusia diciptakan Allah SWT secara fitrah (unsur, system, dan tata kerja yang diciptakan Allah pada makhluk sejak awal kejadiannya sehingga menjadi bawaannya, yang dalam istilah psikologi dikatakan sebagai aspek nature), lengkap dengan nafs, ruh dan akal, pikiran, indra dan intuisi serta sifat-sifat positif dan negatif, yang kesemuanya itu dapat berkembang, tumbuh, dapat dipengaruhi dan diubah, kualitasnya dapat menaik dan menurun, yang membuatnya menjadi unik, berbeda dari yang lain (Aly dan Shobhron, 1997). Manusia dibedakan dari binatang bukan sekedar karena manusia bisa berpikir (thinking animal), tapi lebih dari itu manusia memiliki keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki makhluk lain, paling sempurna dan mendapatkan hak dari Tuhan untuk menguasai, mengelola, dan mendapatkan semua kebutuhannya dari alam sekaligus berkewajiban utama untuk beribadah hanya kepadaNya.

Pada dasarnya manusia memiliki kebebasan sejak dari asalnya, bebas untuk mengikuti kemauannya dalam segala perbuatannya, namun kebebasan tersebut akan dibatasi oleh kebebasan manusia lain dan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan dan keputusannya. Derajat manusia dapat dilihat dan dinilai dari perbuatannya, produktifitas dan kemanfaatan serta eksistensinya dalam lingkungannya dan yang paling penting dilihat dari motivasi dan tujuan (niat) yang menjadi latarbelakang perbuatannya.

Manusia yang sakit atau bermasalah adalah mereka yang dengan segala potensi yang dimilikinya tidak diaktualisaikan, tidak tumbuh-berkembang, dan tidak dimanfaatkan untuk kesejahteraan dirinya sendiri dan lingkungannya, justru melakukan kerusakan-kerusakan dengan sengaja maupun tidak sengaja. Mereka mempunyai masalah dalam efisiensi dan efektifitas aktualisasi potensi. Dalam derajat tertentu mereka bisa dikatakan tidak mengenal dirinya sendiri sehingga tidak memiliki daya memimpin dirinya sendiri pula, alih-alih memimpin lingkungannya. Pada saat manusia bermasalah atau sakit maka dikatakan dia sedang lebih didominasi oleh potensi negatif atau fujur-nya dan potensi positifnya tidak cukup berperan secara signifikan untuk menaggulangi masalah dari dalam dirinya sendiri maupun tuntutan-tantangan dari luar dirinya. Pada saat seperti itu, individu membutuhkan bantuan individu lain.

Pindah halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9